Demo Berdarah Guncang Pakistan Usai Kematian Ali Khamenei, 20 Tewas

5 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang kemarahan menyapu sejumlah kota besar di Pakistan pada Minggu (1/2/2026), sehari setelah Amerika Serikat dan Israel mengonfirmasi tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara terkoordinasi di Teheran. Kerusuhan yang meluas itu menewaskan sedikitnya 20 orang dan melukai puluhan lainnya di berbagai wilayah negara tersebut.

Korban jiwa dilaporkan tersebar di beberapa kota. Sepuluh orang meninggal dunia di Karachi, sedikitnya delapan orang tewas di Skardu, wilayah Gilgit-Baltistan, serta dua orang di ibu kota Islamabad.

Aksi-aksi protes yang sebagian besar dipimpin oleh komunitas Muslim Syiah Pakistan itu berujung bentrokan ketika aparat keamanan menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa.

Pakistan yang berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa mayoritas beraliran Sunni. Namun, komunitas Syiah mencakup lebih dari 20% populasi dan tersebar di berbagai daerah.

Di Islamabad, ribuan orang berkumpul di dekat Red Zone, kawasan superketat yang menjadi lokasi parlemen, kantor pemerintahan, dan sejumlah kedutaan besar asing. Massa meneriakkan slogan, "Mereka yang berpihak pada AS adalah pengkhianat" dan menyerukan "balas dendam terhadap Israel".

Antara 5.000 hingga 8.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, berkumpul di sekitar salah satu hotel terbesar di ibu kota sambil membawa poster bergambar Khamenei.

Pemerintah Pakistan sebelumnya telah mengecam serangan militer gabungan AS-Israel yang menewaskan Khamenei, sekaligus mengkritik serangan balasan Iran terhadap negara-negara Teluk.

Di tengah aksi, sebagian peserta sempat menyerukan agar massa bergerak menuju kawasan diplomatik, namun lainnya mengimbau agar tetap menjaga "disiplin".

Ali Nawab, pekerja dari partai politik Syiah Majlis Wahdat-e-Muslimeen, mengatakan penyelenggara telah bersepakat dengan otoritas setempat agar aksi tetap berlangsung damai.

"Ada beberapa orang yang bisa Anda lihat di sini yang sengaja mencoba melakukan gerakan provokatif dan membuat kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kami lakukan. Kami di sini untuk suatu tujuan, dan kami akan bergerak maju ketika diperintahkan kepada kami," katanya, dilansir Al Jazeera.

Aparat menutup akses menuju Red Zone, yang juga menaungi Kedutaan Besar AS dan misi diplomatik lainnya. Ketika massa mencoba menerobos, aparat menembakkan gas air mata dan peluru karet. Sejumlah saksi menyebut terdengar pula suara tembakan peluru tajam.

Saat massa mundur, gas air mata kembali ditembakkan, menyebabkan sejumlah orang terluka. Al Jazeera melaporkan melihat beberapa korban yang terkena serpihan peluru karet.

Dokter di Rumah Sakit Pemerintah Poly Clinic Islamabad menyatakan telah menerima sedikitnya dua jenazah serta merawat setidaknya 35 orang luka-luka.

Mouwaddid Hussain, 52 tahun, menyebut pemerintah telah mengkhianati mereka. "Apakah kami musuh negara? Kami di sini untuk berduka atas kematian pemimpin kami, dan kami bahkan tidak bisa berduka di sini? Mereka berjanji akan mengizinkan kami berada di sini dan berdemonstrasi, tetapi mereka melanggar janji mereka," ujarnya.

Karachi Memanas, 10 Orang Tewas

Kerusuhan paling mematikan terjadi di Karachi, kota terbesar Pakistan. Ratusan orang berkumpul di luar Kedutaan Besar dan Konsulat AS di Jalan Mai Kolachi.

Sejumlah pemuda memanjat gerbang luar konsulat, masuk ke halaman, dan memecahkan kaca bangunan utama. Massa akhirnya dibubarkan dengan gas air mata dan tembakan. Belum jelas apakah tembakan tersebut berasal dari aparat keamanan yang berjaga.

Sedikitnya 10 orang tewas dan 60 lainnya terluka dalam bentrokan tersebut, menurut pernyataan ahli bedah kepolisian, Summaiya Syed.

Kepala Menteri Provinsi Sindh, Murad Ali Shah, menyebut insiden itu "sangat tragis" dan memerintahkan penyelidikan independen.

"Di saat negara sedang menghadapi situasi seperti perang, tindakan sabotase terhadap perdamaian dan ketertiban tidaklah tepat," katanya, sembari menyatakan solidaritas kepada Iran dan rakyatnya.

Kedutaan Besar AS di Islamabad dalam pernyataan singkat di platform X mengatakan memantau laporan demonstrasi di fasilitas AS di Karachi, Lahore, dan Islamabad. Warga negara AS diimbau menghindari kerumunan.

Aksi kekerasan terhadap fasilitas AS bukan tanpa preseden. Pada November 1979, massa menyerbu dan membakar Kedutaan Besar AS di Islamabad, menewaskan dua warga Amerika dan dua staf Pakistan.

Insiden itu terjadi beberapa hari setelah pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, menyiarkan klaim, yang kemudian terbukti salah, bahwa AS dan Israel berada di balik penyitaan Masjidil Haram di Mekkah. Rumor tersebut menyebar cepat dan memicu amuk massa.

Kekerasan di Wilayah Utara

Di Gilgit-Baltistan, wilayah pegunungan di utara dengan populasi Syiah signifikan, situasi juga memburuk. Sedikitnya delapan orang tewas di Skardu setelah massa membakar kantor United Nations Military Observer Group in India and Pakistan. Sejumlah bangunan lain, termasuk sekolah, ikut rusak.

Otoritas memberlakukan jam malam selama tiga hari di Skardu dan menyebut situasi masih tegang.

Di Lahore, ratusan orang berkumpul di luar Kedutaan Besar AS. Sebagian mencoba menerobos masuk sebelum dibubarkan dengan gas air mata. Tidak ada laporan korban jiwa di kota itu.

Aksi protes juga berlangsung di Peshawar, Multan, dan Faisalabad, dengan massa mengecam AS dan Israel serta berkabung atas kematian Khamenei.

Seruan Menahan Diri

Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi pada Minggu meninjau langsung pengamanan di Islamabad dan memerintahkan penambahan pasukan di sekitar kawasan diplomatik.

"Setelah kemartiran Ayatollah Khamenei, setiap warga Pakistan merasa sedih sebagaimana halnya warga Iran yang berduka," ujarnya.

"Kami semua bersama Anda. Kami meminta warga untuk tidak main hakim sendiri, dan untuk melakukan protes secara damai," tambahnya.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif kemudian menyampaikan duka cita atas wafatnya Khamenei melalui media sosial.

"Pakistan juga menyatakan keprihatinan atas pelanggaran norma-norma hukum internasional. Sudah menjadi konvensi lama bahwa Kepala Negara/Pemerintahan tidak boleh dijadikan sasaran. Kami berdoa untuk arwah almarhum. Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan kesabaran dan kekuatan kepada rakyat Iran untuk menanggung kehilangan yang tak tergantikan ini," kata Sharif.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|