Dialog AS Iran Berlanjut Tanpa Hasil Tegas

3 hours ago 1

Dialog AS Iran Berlanjut Tanpa Hasil Tegas Foto ilustrasi Iran vs Amerika Serikat. / Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Upaya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlanjut tanpa kepastian hasil, meski kedua pihak disebut tetap membuka ruang dialog lanjutan usai pertemuan panjang di Islamabad.

Pemerintah Pakistan memastikan tidak ada terobosan maupun kebuntuan dalam negosiasi yang telah berlangsung hingga 16 jam pada akhir pekan lalu. Proses dialog dinilai masih berjalan dalam jalur yang konstruktif.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menegaskan spekulasi terkait rencana putaran kedua pembicaraan di Islamabad sebaiknya dihindari.

“Tidak ada terobosan maupun kebuntuan,” ucapnya dalam konferensi pers di Islamabad, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, isu program nuklir Iran tetap menjadi fokus utama dalam pembahasan yang berlangsung. Menurutnya, topik tersebut dibicarakan secara serius oleh kedua delegasi.

Andrabi juga menyebut rincian terkait komposisi delegasi dari Amerika Serikat maupun Iran merupakan urusan internal masing-masing pihak.

Di tengah kebuntuan hasil, Pakistan terus mendorong proses mediasi agar tetap berjalan. Negara tersebut sebelumnya berhasil memfasilitasi gencatan senjata selama 14 hari yang dimulai pada 8 April.

Upaya diplomasi juga diperkuat melalui kunjungan regional Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif ke Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir melakukan lawatan ke Iran untuk bertemu dengan para pemimpin setempat.

Selain isu nuklir, dinamika kawasan turut menjadi perhatian. Pakistan turut menyinggung situasi konflik di Lebanon yang dinilai berkaitan dengan proses perdamaian yang lebih luas.

Andrabi mengutuk serangan Israel di Lebanon dan menilai adanya tanda-tanda perbaikan situasi di wilayah tersebut sebagai perkembangan positif.

“Deeskalasi akan membantu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk dialog,” ujarnya.

Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran pada tahun 2026 dipicu oleh operasi militer besar-besaran bertajuk Operation Epic Fury yang diluncurkan pada 28 Februari 2026.

Serangan udara gabungan AS dan Israel tersebut menargetkan infrastruktur strategis, fasilitas nuklir, serta kepemimpinan tinggi Teheran, yang mengakibatkan gugurnya Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei dalam gelombang serangan pertama.

Iran segera membalas dengan meluncurkan ratusan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Timur Tengah, menyerang fasilitas diplomatik di Kuwait dan Riyadh, serta mengambil langkah ekstrem dengan menutup total Selat Hormuz.

Tindakan ini memicu krisis energi global yang drastis dan memperluas teater perang hingga melibatkan proksi di Lebanon dan Yaman.

​Memasuki bulan April 2026, ketegangan sempat mereda melalui kesepakatan gencatan senjata singkat yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad pada 7-8 April. Namun, harapan perdamaian tersebut kandas setelah perundingan diplomatik gagal mencapai titik temu terkait tuntutan pelucutan material nuklir Iran.

Kegagalan negosiasi ini memicu Presiden Donald Trump untuk memerintahkan blokade total terhadap pelabuhan utama Iran dan Selat Hormuz mulai Senin, 13 April 2026. Langkah ini bertujuan untuk memutus akses ekonomi Teheran sekaligus mencegat lalu lintas kapal yang masih membayar retribusi kepada pemerintah Iran.

Hingga pertengahan April, situasi di kawasan Teluk tetap berada di ambang ketidakpastian tinggi dengan kehadiran armada laut internasional yang bersiaga menghadapi potensi serangan balasan baru dari Garda Revolusi Iran.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|