Seorang petani di Dusun Karangsari, Desa Karangrejek, Wonosari, memanen padi varietas baru ZR, Rabu (19/2). - Harian Jogja
Harianjogja.com, KULONPROGO — Intensitas hujan yang tinggi memicu genangan air di lahan pertanian hingga menyebabkan belasan hektare tanaman padi di Kabupaten Kulonprogo mengalami gagal panen. Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo mengidentifikasi bahwa kondisi air yang merendam tanaman dalam waktu lama menjadi pemicu utama kerusakan vegetasi pada musim tanam kali ini.
Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dispertapang Kulonprogo, Wazan Mudzakir, mengungkapkan total luasan lahan yang terdampak mencapai 12 hektare. Kerusakan tersebut terjadi dalam dua gelombang besar, yakni pada akhir Desember 2025 dan Januari 2026, yang tersebar di beberapa titik kalurahan langganan banjir.
"Pada Desember gagal panennya sebanyak tujuh hektare. Terdiri dari lima hektare gagal panen di Kalurahan Sidorejo dan masing-masing satu hektare di Kalurahan Tayuban dan Cerme," papar Wazan saat memberikan konfirmasi pada Rabu (11/3/2026). Insiden pada akhir tahun tersebut dipicu oleh cuaca ekstrem pada 27 Desember, di mana rata-rata usia tanaman padi baru menginjak 25 hari setelah tanam.
Memasuki awal tahun, tepatnya pada 10 Januari, hujan lebat kembali menerjang dan merusak lima hektare lahan padi lainnya di Kalurahan Ngentakrejo serta Sidorejo. Sama seperti kejadian sebelumnya, tanaman yang terdampak masih berada pada fase pertumbuhan awal di usia 25 hari, sehingga sangat rentan mati akibat terendam air yang tidak kunjung surut.
Merespons kerugian petani, Dispertapang Kulonprogo langsung melakukan pendampingan intensif serta menyalurkan bantuan cadangan benih bagi lahan yang harus melakukan penanaman ulang. Langkah cepat ini membuahkan hasil positif dengan tumbuhnya tanaman baru yang kini terpantau dalam kondisi baik di area terdampak tersebut.
Meskipun terdapat kasus gagal panen seluas 12 hektare, Wazan menegaskan bahwa jumlah tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap total produktivitas pangan di Bumi Binangun. Hal ini dikarenakan realisasi luas panen pada periode Desember 2025 mencapai 1.355 hektare, sementara pada Januari 2026 justru melonjak hingga 1.774 hektare.
Kapanewon Panjatan tercatat sebagai wilayah dengan luas panen terbesar pada Desember 2025 yang mencapai 412 hektare, sedangkan Kapanewon Galur mendominasi pada Januari 2026 dengan luas 776 hektare. Kepala Dispertapang Kulonprogo, Trenggono Trimulyo, menambahkan bahwa titik-titik yang mengalami gagal panen memang merupakan area dengan sistem drainase yang lambat surut saat curah hujan ekstrem melanda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































