Drone Setengah Triliun Hancur, Kontraktor dan Tentara AS Pun Cedera Usai Pembalasan Iran

2 hours ago 3

Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Pangkalan AS ini jadi salah satu yang diporakporandakan Iran.

REPUBLIKA.CO.ID,KUWAIT CITY — Serangan balasan rudal balistik Iran yang menyasar sebuah pangkalan udara Kuwait pada Sabtu (30/5/2026) menyebabkan beberapa warga Amerika Serikat (AS) mengalami cedera. Insiden ini juga menghancurkan dua drone tempur MQ-9 Reaper, di tengah ketegangan di Selat Hormuz.

Sistem pertahanan udara Kuwait berhasil mencegat rudal Fateh-110 tersebut. Namun, serpihan puing-puing rudal jatuh dan menghantam Pangkalan Udara Ali Al Salem. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang sumber yang mengetahui langsung insiden itu. Dilansir dari Straits Times yang mengutip laporan Bloomberg, dia meminta identitasnya dirahasiakan karena detail kejadian belum dibuka untuk publik.

Menurut sumber itu, sekitar lima orang—termasuk kontraktor dan personel militer aktif—mengalami luka ringan. Selain itu, satu unit drone Reaper dilaporkan hancur total, sementara setidaknya satu unit lainnya mengalami kerusakan parah. Diketahui, harga satu unit drone tersebut mencapai sekitar 30 juta dolar AS (sekitar Rp534 miliar). Hingga berita ini diturunkan, Komando Sentral AS (CENTCOM) belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.

Rekaman drone Shahed Iran menghantam pangkalan militer AS di Kuwait pada 28 Februari 2026.

Serangan ini terjadi usai AS melakukan serangan terhadap situs militer Iran di kota pelabuhan Bandar Abbas di tengah negosiasi yang tidak langsung dengan peran Pakistan. Trump mempertimbangkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berlangsung sejak April lalu. Kendati status gencatan senjata tengah berjalan, kedua belah pihak dilaporkan masih terus melancarkan aksi saling serang.

Melalui unggahan di media sosial pada Jumat (29/5/2026), Presiden Trump menyatakan bahwa dirinya siap mengambil "keputusan akhir" terkait kesepakatan pendahuluan tersebut.

Namun, pertemuan selama kurang lebih dua jam di Ruang Situasi (Situation Room) Gedung Putih pada hari yang sama berakhir tanpa adanya pengumuman resmi dari sang presiden. Hal tersebut diungkapkan oleh seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|