Peternak Ayam Broiler Skala Kecil-Menengah Terancam Merugi Akibat Pemadaman Listrik

1 hour ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah (Jateng), Susilo, menyampaikan kekhawatiran atas pemadaman listrik yang masih berlangsung di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Menurut dia, pemadam tersebut berisiko mengakibatkan peternak unggas berskala kecil, khususnya ayam pedaging atau broiler, mengalami kerugian ekonomi signifikan. 

Susilo mengaku sudah menerima laporan soal adanya peternak ayam broiler di Jateng yang terimbas pemadaman listrik PLN. Kendati demikian, dia belum mendata berapa banyak peternak yang terdampak dan tersebar di daerah mana saja. Susilo hanya menyampaikan bahwa Pinsar Jateng memiliki 100 ribu anggota. 

Dia menjelaskan, peternak ayam broiler sangat membutuhkan aliran listrik. "Karena ayam pedaging waktu kecil atau masa brooding, itu umur satu sampai 14 hari, itu butuh pemanas. Kalau lampu itu mati, listrik itu padam, ayam itu numpuk di kandang. Karena begitu gelap, numpuk, itu pada mati. Kita menyebutnya deplesi," kata Susilo ketika diwawancara, Senin (22/6/2026).

Susilo mengungkapkan, kapasitas kandang milik peternak kecil hingga sedang dapat mencapai antara lima sampai sepuluh ribuan ekor. Sementara peternak berskala besar biasanya telah menggunakan sistem close house yang dapat menampung lebih dari 20 ribu ekor ayam.

Menurut Susilo, risiko deplesi ayam pedaging pada masa brooding akibat padamnya listrik beragam. Angkanya bahkan bisa mencapai 50 persen. "Harga DOC (day old chick) itu sekarang pemerintah misalnya matoknya Rp6 ribu. Kalau yang mati 1.000 ekor saja, berarti sudah Rp6 juta. Padahal kapasitas kandang itu minimal lima sampai sepuluh ribu," ucapnya. 

Dia mengatakan, untuk mengantisipasi pemadaman listrik, peternak berskala besar biasanya sudah mempunyai genset. "Tapi kalau peternak-peternak kecil kan tidak punya," ujar Susilo. 

Menurut Susilo, untuk mempunyai genset, peternak harus mengeluarkan biaya atau modal tambahan sekitar Rp15 juta. Bagi peternak kecil, angka tersebut dinilai sangat signifikan. 

"Jadi ada kekhawatiran tentunya (terkait pemadaman listrik). Cuman ya akhirnya pada mencari cara untuk mengantisipasi itu. Terutama saat malam hari karena tidak ada cahaya, kemudian listriknya mati, ya harus ada penerang. Kalau sudah punya genset, ya pakai genset. Kalau yang belum punya genset, ya (penerangan) emergensi," ucap Susilo. 

PT PLN telah melakukan pemadaman listrik secara bergilir di berbagai daerah di Pulau Jawa. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, pada Jumat (19/6/2026) menyampaikan, pemadaman terjadi karena ada kendala teknis pada dua pembangkit besar di Jawa. Kedua pembangkit itu dioperasikan oleh independent power producer atau produsen listrik swasta dan harus keluar sementara dari sistem kelistrikan Jawa.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|