Dua Wajah PSIM Jadi Sorotan Setelah Kekalahan dari Bhayangkara

7 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Penampilan inkonsisten PSIM Jogja dalam satu pertandingan menjadi sorotan setelah tim gagal mempertahankan keunggulan saat menghadapi Bhayangkara FC. Performa yang kontras antara babak pertama dan kedua dinilai menjadi penyebab utama kekalahan.

Laga di Stadion Sumpah Pemuda, di Bandar Lampung, Jumat (17/4/2026) sore itu memperlihatkan perubahan drastis permainan PSIM. Tim sempat tampil dominan di awal, namun kehilangan kendali setelah turun minum.

PSIM Jogja membuka keunggulan melalui gol Savio Sheva pada menit ke-9. Namun Bhayangkara FC membalikkan keadaan lewat gol Nehar Sadiki pada menit ke-48 dan Moussa Sidibe pada menit ke-55.

Pelatih PSIM Jogja, Jean Paul Van Gastel, menilai timnya seperti memiliki dua karakter berbeda dalam satu laga.

"Game ini terlihat sangat jelas bahwa kami adalah tim dengan dua wajah. Jadi di babak pertama, kami menciptakan peluang. Di sepertiga akhir lapangan, kami menemukan solusinya. Satu-satunya masalah, yang memang sudah kami tahu, adalah kami butuh banyak sekali peluang untuk bisa mencetak gol. Jadi hal itu jelas terlihat juga di babak pertama," ujarnya.

PSIM sebenarnya memulai pertandingan dengan menjanjikan. Tekanan ke lini pertahanan lawan mampu dibangun, namun efektivitas penyelesaian akhir masih menjadi kendala.

Set Piece Kembali Jadi Masalah

Memasuki babak kedua, kelemahan lama kembali muncul. PSIM gagal mengantisipasi situasi bola mati yang dimanfaatkan lawan untuk mencetak gol penyeimbang.

"Nah, di babak kedua, kalian bisa lihat fase kedua kami adalah kelemahan antisipasi set piece. Eh, jadi itu terjadi lagi. Satu gol dari situasi bola mati. Dan kemudian kalian lihat kami seperti lumpuh. Kami jadi ragu-ragu. Dan lalu mereka mencetak gol kedua karena kami tidak menjaga pelari yang memberikan assist," jelasnya.

Gol kedua Bhayangkara FC terjadi akibat kelengahan dalam menjaga pergerakan lawan. Koordinasi lini belakang yang kurang solid membuat celah terbuka.

Setelah tertinggal, PSIM mencoba bangkit dengan meningkatkan intensitas serangan dan bermain lebih terbuka.

"Ya, dan kemudian setelah kedudukan 2-1, kami mulai bermain lagi. Dan lalu kami all-in, dan eh jelas, karena kalian all-in, lawan juga dapat peluang jadi mereka sebenarnya bisa mencetak gol lebih banyak. Tapi begitulah adanya kalau kalian harus mencetak gol, maka kalian mengambil risiko," tambahnya.

Kekalahan ini dinilai terjadi bukan karena dominasi lawan, melainkan akibat kesalahan sendiri yang berulang di momen penting.

"Jadi pada akhirnya ini lagi-lagi sangat mengecewakan karena menurut saya ini kekalahan yang tidak perlu," pungkas Van Gastel.

Hasil tersebut menjadi catatan penting bagi PSIM Jogja untuk segera melakukan evaluasi, terutama dalam penyelesaian akhir dan antisipasi bola mati, sebelum menghadapi laga berikutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|