Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar (Dubes) Iran untuk Republik Indonesia (RI), Mohammad Boroujerdi, memberikan pernyataan tegas terkait situasi terkini di negaranya yang melibatkan eskalasi serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel. Boroujerdi menyoroti tindakan aliansi tersebut yang menyasar tokoh-tokoh penting dan pemimpin negara meski mereka secara konsisten mengkampanyekan perdamaian.
"Aliansi yang lain adalah Amerika Serikat dan Israel melakukan pembunuhan terhadap seorang tokoh, seorang ulama, seorang pemimpin dari sebuah negara yang dalam fatwanya, dikarenakan beliau merupakan seorang marja atau ulama rujukan, dalam fatwanya telah menyatakan bahwa berbagai bentuk penyimpangan, produksi, penggunaan, jual beli senjata pemusnah masal termasuk senjata nuklir merupakan tindakan yang haram. Amerika Serikat dan Zionis Israel membunuh seorang pemimpin yang memiliki pendirian dan pandangan seperti yang saya sampaikan ini," ujar Boroujerdi dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Senin (2/3/2026)
Boroujerdi juga mempertanyakan klaim bantuan demokrasi dari Washington yang dinilainya kontradiktif dengan sejarah panjang intervensi mereka di Iran sejak tahun 1953. Ia menyebutkan bahwa keterlibatan AS selama ini hanya memicu kehancuran, mulai dari dukungan terhadap kudeta terhadap Mohammad Mosaddegh hingga sanksi ekonomi yang mencekik rakyat sipil dan anak-anak.
"Hal ironis lain adalah klaim yang mereka sampaikan, yaitu Amerika Serikat ingin membantu masyarakat Iran. Saya ingin tanyakan jenis bantuan seperti apa ini? Sampai dengan 200 anak-anak SD menjadi korban. Bantuan seperti apa yang dimaksudkan oleh mereka? Dunia tentu sudah sadar dan sudah lama mengetahui berbagai jenis bantuan yang disampaikan oleh Amerika Serikat. Kita pernah melihat contohnya di Irak, di Afghanistan, dan berbagai wilayah lainnya di dunia. Bantuan Amerika Serikat tidak lain selain kehancuran dan kelaparan dan kerusakan total bagi sebuah negara. Apakah ada manfaat lain? Saya rasa tidak ada," tegasnya.
Ia turut membeberkan rentetan agresi fisik yang dilakukan AS dan Israel, termasuk penyerangan pesawat sipil pada 1988 serta pembunuhan jenderal senior pada 2020. Boroujerdi mengungkapkan bahwa serangan terbaru pada 2024 dan 2025 merupakan puncak dari provokasi yang menargetkan situs militer, ekonomi, hingga fasilitas nuklir damai.
"Dan sejak tahun 2010, Amerika memberlakukan berbagai sanksi yang sangat berat terhadap Iran dan pada tahun 2020, ketika mereka melihat tidak bisa sukses membuat Iran tunduk, maka mereka melakukan peneroran terhadap sebuah jenderal senior dari Iran yang merupakan tokoh dan pahlawan anti-ISIS di Irak. Mereka turun tangan secara langsung untuk melakukan pembunuhan ini. Dan pada tahun 2024, dia telah melakukan provokasi terhadap rezim Zionis Israel untuk menyerang sebuah kantor konsulat milik Iran di luar negeri. Dan pada tanggal 26 Oktober 2024, mereka dengan memberikan dorongan kepada rezim Zionis Israel menyerang situs militer Iran, situs ekonomi, masyarakat sipil, masyarakat tidak berdosa, dan lain sebagainya," ungkapnya.
Ketegangan mencapai titik baru pada Juni 2025, di mana Boroujerdi menyebut adanya penyerangan selama 12 hari berturut-turut menggunakan persenjataan AS. Serangan ini tidak hanya menewaskan pejabat militer tinggi, tetapi juga menyasar infrastruktur nuklir yang berada di bawah pengawasan badan internasional IAEA.
"Dan di bulan Juni tahun 2025, atas dukungan Amerika Serikat dengan menggunakan persenjataan dari Amerika Serikat, mereka melakukan penyerangan selama 12 hari di Iran dan membunuh banyak pejabat senior militer dan panglima di negara kami. Dan pada waktu yang sama, Juni 2025, mereka melakukan penyerangan terhadap situs nuklir damai Republik Islam Iran yang berada di bawah pengawasan langsung dari IAEA," tambahnya lagi.
Lebih lanjut, Boroujerdi menuding adanya operasi intelijen melalui agen CIA dan Mossad yang membajak aksi damai masyarakat menjadi kerusuhan berdarah. Strategi ini disebutnya sebagai proyek untuk menciptakan korban maksimal guna melegitimasi serangan militer terhadap kedaulatan Iran dengan dalih perlindungan hak asasi manusia.
"Setelah itu mereka menjalankan proyek menciptakan korban yang maksimal. Tentu agen-agen CIA, agen-agen Mossad berada di tengah-tengah mereka untuk menciptakan korban yang banyak, dan nantinya dengan dalih ingin mendukung para masyarakat yang melakukan demonstrasi, mereka melancarkan serangan terhadap Iran. Para pemilik media-media mainstream yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel sedang berupaya untuk menggantikan tempat hak dengan kebatilan, menggantikan tempat kebenaran dengan kebohongan. Mungkin masyarakat biasa bisa mereka taklukkan dan bisa membuat masyarakat biasa percaya kepada mereka, tetapi saya rasa insan media tidak akan percaya kepada mereka," kata Boroujerdi.
Terakhir, ia menyoroti standar ganda Barat yang mengabaikan krisis kemanusiaan di Gaza sementara terus mengintervensi Iran. Ia mengapresiasi dukungan konsisten dari pemerintah dan masyarakat Indonesia yang tetap berdiri di sisi sejarah yang benar dalam mengutuk tindakan agresi terhadap negaranya.
"Dikarena apabila memang benar Amerika Serikat dan Israel khawatir dan ingin mempedulikan hak asasi manusia, kenapa mereka tidak mengedepankan pendekatan yang sama di Gaza dan tidak mempedulikan keadaan HAM di Gaza? Apabila mereka khawatir terhadap keadaan anak-anak dan kaum wanita, mengapa anak-anak dan wanita di Gaza dibiarkan dan puluhan ribu dari anak-anak dan Gaza jatuh menjadi korban? Ini adalah hal-hal double standard, standar ganda yang sudah tidak diterima lagi oleh opini publik. Dan pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia yang telah berdiri di tempat yang benar dari sejarah, sisi dan segi yang benar dari sejarah, dan memberikan kutukan yang serius dan tegas terhadap langkah yang serius yang terjadi terhadap negara kami," tutupnya.
(tps/luc)
Addsource on Google


















































