Dukung Target E20, MSI Dorong Pengembangan Budi Daya Singkong di DIY

6 hours ago 3

Dukung Target E20, MSI Dorong Pengembangan Budi Daya Singkong di DIY

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Arifin Lambaga ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (10/9/2026). Harian Jogja-Anisatul Umah

Harianjogja.com, JOGJA— Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) mendorong pengembangan budidaya singkong di DIY untuk mendukung target penggunaan bioetanol 20% atau E20 pada 2028. Pengembangan komoditas tersebut dinilai perlu disertai kepastian pasar dan harga agar memberikan manfaat bagi petani.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Arifin Lambaga, mengatakan pemerintah berencana meningkatkan penggunaan bioetanol sebagai campuran bensin. Saat ini penggunaan bioetanol baru mencapai 5% atau E5.

Untuk mencapai target E20, menurut Arifin, dibutuhkan bioetanol sekitar 3 juta kilo liter (KL) per tahun. Jika seluruh kebutuhan bahan baku berasal dari singkong, kebutuhan komoditas tersebut mencapai sekitar 21 juta ton per tahun.

Dengan asumsi produktivitas rata-rata 25 ton per hektare, kebutuhan bahan baku itu memerlukan lahan ratusan ribu hektare. Selain itu, dibutuhkan sekitar 28 pabrik pengolahan bioetanol.

"Kita butuh kira-kira 28 pabrik pengolahan bioetanol untuk mencukupi 20% itu kalau itu dari singkong semua. Karena bahan baku bioetanol kan enggak sekadar enggak semua dari singkong, bisa buat dari tebu, jagung," jelasnya.

DIY Dinilai Strategis untuk Pengembangan Singkong

MSI mendorong pengembangan budidaya singkong di DIY agar dapat mendukung kebutuhan bahan baku industri bioetanol. Arifin mengatakan DIY dipilih karena wilayah ini telah lama memiliki budidaya singkong.

Selain itu, posisi DIY yang berada di tengah Pulau Jawa dinilai strategis untuk mendukung distribusi bioetanol apabila produksinya dikembangkan. Pengembangan pertanian singkong juga diarahkan agar hasil pertanian dapat memenuhi kebutuhan industri.

"Beliau [Sultan] ingin supaya produk-produk pertanian ini bisa memenuhi persyaratan industri. Bagaimana kita mengajak masyarakat untuk shifting. Persepsi, paradigma, pola pikir kita dari agraris menjadi industri," ujarnya.

Arifin mengatakan pemerintah menargetkan penggunaan bioetanol 10% atau E10 pada 2027. Target tersebut kemudian meningkat menjadi E20 pada 2028.

Secara keekonomian, bioetanol untuk E10 maupun E20 dinilai layak apabila harga minyak dunia berada di kisaran 70–100 dolar AS per barel. Namun, apabila harga minyak turun di bawah level tersebut, pemerintah perlu memberikan subsidi.

"Jadi di atas 100 masih oke. Mungkin sampai 70 mungkin masih oke. Kalau di bawah itu mungkin harus subsidi," lanjutnya.

DPKP DIY Soroti Jaminan Pasar dan Harga

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Eko Aris Nugroho, mengatakan pengembangan industri singkong perlu ditindaklanjuti dengan memberikan kepastian kepada petani. Hal tersebut terutama berkaitan dengan pasar dan harga hasil panen.

"Kalaupun ada pabrik kan harus ada jaminan terhadap masyarakat yang menanam. Jaminan pasar, harga, dan sebagainya, sehingga tentu ada pembahasan," ujarnya.

DPKP DIY masih membahas kemungkinan pengembangan varietas singkong tertentu dalam skala kecil yang sesuai dengan kebutuhan industri bioetanol. Lokasi pengembangan juga belum ditentukan karena masih perlu dibahas bersama masyarakat.

"Tetapi memang pada saat ini pemerintah pusat sedang konsentrasinya itu di padi dan tebu, bukan di singkong. Tetapi masyarakat di Yogyakarta, sementara khususnya di Gunungkidul, kalau dengan kondisi air terbatas, singkong adalah salah satu pilihan," jelasnya.

Eko mengatakan harga singkong yang diharapkan berada di kisaran Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan masih ada singkong yang dihargai sekitar Rp1.000 per kilogram.

"Tapi sekarang ini kenyataannya kan ada juga yang Rp1.000-an. Ini kan kenyataan. Jadi memang itu yang masih menjadi bagian masalah."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|