El Nino Godzilla Ancam Pertanian, Petani Diminta Ubah Pola Tanam

2 hours ago 2

El Nino Godzilla Ancam Pertanian, Petani Diminta Ubah Pola Tanam

Foto ilustrasi irigasi pertanian / foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, SLEMAN—Ancaman El Nino Godzilla yang diprediksi memicu kekeringan dan suhu lebih panas pada musim kemarau tahun ini berpotensi mengganggu sektor pertanian. Petani diimbau segera menyesuaikan pola tanam, menggunakan varietas tahan kekeringan, dan memilih komoditas yang minim kebutuhan air untuk menjaga produktivitas dan ketahanan pangan.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, mengatakan fenomena El Nino tahun ini diprediksi lebih kuat dibandingkan kejadian El Nino sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan dampak kekeringan yang lebih parah di sejumlah wilayah.

"Tahun ini memang diprediksi terjadi El Nino Godzilla, di mana kejadian El Nino ini lebih kuat dan lebih terasa keringnya serta panasnya dibandingkan dengan kejadian-kejadian El Nino sebelumnya," ungkap Bayu dihubungi pada Rabu (29/7/2026).

Secara teoretis, Bayu menjelaskan El Nino terbagi dalam tiga kategori, yakni lemah, sedang, dan kuat. Adapun El Nino Godzilla berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari kategori kuat.

Dengan tingkat intensitas tersebut, El Nino Godzilla diperkirakan membawa dampak kekeringan dan suhu panas yang lebih besar dibandingkan fenomena El Nino pada umumnya.

"Sedangkan tahun ini adalah El Nino Godzilla yang merupakan El Nino di atas dari kuat, sehingga bisa dibayangkan bagaimana dampak kekeringan dan panasnya," ungkapnya.

Menurut Bayu, durasi El Nino Godzilla diproyeksikan tidak jauh berbeda dengan fenomena El Nino sebelumnya. Namun, intensitasnya yang lebih besar membuat dampak kekeringan dan kekurangan air mulai dirasakan di sejumlah wilayah.

"Durasi sebenarnya tidak berbeda jauh, tetapi memang saat ini lebih kuat intensitasnya. Kita sekarang sudah merasakan suhu yang panas kemudian di beberapa wilayah juga sudah mulai kekurangan air," tandasnya.

Di sektor pertanian, fenomena El Nino berpotensi mengubah kalender tanam serta memicu gagal tanam dan gagal panen yang berdampak pada penurunan produktivitas komoditas pangan.

"Tentunya di sektor pertanian, akan merubah kalendar tanam, berpotensi gagal tanam dan gagal panen, yang ujungnya nanti akan menyebabkan penurunan produktifitas," ujarnya.

Penurunan produktivitas dan stok pangan juga berpotensi memengaruhi harga bahan pangan yang pada akhirnya berdampak terhadap sektor perekonomian.

"Dengan turunnya produktivitas dan stok beras menurun akan berpengaruh terhadap harga, yang tentunya akan berpengaruh terhadap perekonomian," kata Bayu.

Bayu menjelaskan El Nino merupakan fenomena alam yang menjadi salah satu indikator perubahan iklim. Seiring siklusnya yang semakin sering terjadi, distribusi informasi yang cepat dan akurat hingga tingkat petani dinilai penting untuk meminimalkan risiko penurunan produktivitas.

"Implementasi teknologi, inovasi, serta penguatan kerja sama antara petani dan penyuluh menjadi faktor penentu keberhasilan adaptasi dan mitigasi sektor pertanian. Komunikasi penyuluh dan petani akan menjadi kunci dalam menghadapi El Nino," tegasnya.

Sebagai langkah adaptasi, Bayu menyarankan petani mulai menerapkan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta melakukan penyesuaian kalender tanam selama musim kemarau.

Selain itu, pemilihan komoditas yang dibudi dayakan juga perlu disesuaikan dengan ketersediaan air. Petani diimbau menghindari tanaman yang membutuhkan banyak air apabila pasokan air terdampak kemarau.

"Mulai terapkan menanam varietas-variestas yang tahan terhadap kekeringan, kemudian sesuaikan dengan kalendar tanam, termasuk komoditasnya," tandasnya.

"Kalau memang tidak ada air, ya jangan menanam tanaman yang membutuhkan air yang banyak," lanjut Bayu.

Di sisi lain, Bayu menilai diversifikasi pangan perlu mulai diimplementasikan oleh masyarakat sebagai strategi adaptasi dan mitigasi sektor pangan menghadapi dampak perubahan iklim, meski penerapannya membutuhkan waktu dan dilakukan secara bertahap.

"Perlu [diversifikasi], tetapi memang perlu waktu dan bertahap karena sudah kebiasaan. Diversifikasi pangan menjadi salah satu strategi adaptasi dan mitigasi sektor pangan dalam menghadai dampak perubahan iklim," tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|