Erupsi Anak Krakatau tak Berpotensi Picu Tsunami Seperti 2018, Ini Alasannya Menurut Badan Geologi

5 hours ago 8

Tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 terjadi akibat keruntuhan tubuh GAK.

Rep: Frederikus Dominggus Bata,Rizky Suryarandika,Frederikus Dominggus Bata,Rizky Suryarandika,Frederikus Dominggus Bata,Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani

Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini tidak berpotensi memicu tsunami. Penilaian tersebut didasarkan pada hasil evaluasi perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung api.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 terutama terjadi akibat keruntuhan sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau ke laut dalam volume besar. Kondisi tersebut berbeda dengan aktivitas Anak Krakatau saat ini.

"Jadi tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami," kata Lana dalam konferensi pers perkembangan erupsi Gunung Api Anak Krakatau, Ahad (6/9/2026).

Ia melanjutkan, sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada peristiwa 2018. Setelah itu, tubuh Gunung Anak Krakatau kembali mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi akibat aktivitas erupsi berikutnya.

Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utama relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya. Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 juga masih relatif kecil.

"Pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," ujar Lana.

Meski demikian, Badan Geologi Kementerian ESDM tetap memantau perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau secara intensif. Pemantauan dilakukan untuk melihat perubahan yang dapat memengaruhi potensi bahaya gunung api tersebut.

Aktivitas Anak Krakatau sendiri meningkat sejak Juli 2026. Pada 2 Juli 2026, status aktivitas gunung api tersebut dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Aktivitas tertinggi tercatat pada 5 September 2026. Erupsi menerus juga terjadi pada 4 September 2026 pukul 23.00 WIB dan disertai semburan lava atau lava fountain, suara gemuruh, serta dentuman.

Badan Geologi tetap meminta masyarakat dan wisatawan tidak memasuki wilayah dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi pemerintah terkait perkembangan aktivitas gunung api tersebut.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|