Seorang perempuan Iran menangis saat berkumpul di Lapangan Enqelab, Teheran, Iran, Ahad (1/3/2026), untuk mengekspresikan duka cita atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei tewas dalam serangan udara militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).
REPUBLIKA.CO.ID,ZAHEDAN — Gelombang perlawanan terhadap agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel di tanah Iran terus menguat. Sebanyak 660 ulama Sunni di Provinsi Sistan dan Baluchestan, Iran tenggara, merilis pernyataan bersama belum lama ini yang mengutuk keras serangan tersebut dan menyerukan perlawanan semesta.
Para ulama menegaskan bahwa tugas religius dan sejarah menuntut umat untuk tidak berdiam diri menghadapi apa yang mereka sebut sebagai agresi terang-terangan terhadap kedaulatan negara, dikutip dari laman Al Mayadeen, Kamis (5/3/2026)
Dalam pernyataan resminya, para ulama tersebut mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa "jihad melawan entitas Zionis yang kriminal serta para pendukungnya yang sombong adalah kewajiban utama (wajib muakad).
Ulama Suni di wilayah ini juga mengimbau warga Sistan dan Baluchestan untuk tetap waspada dan tidak terjebak dalam plot serta fitnah yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok pendukung jalur Pahlavi (eks-monarki). Mereka pun menyatakan dukungan penuh kepada angkatan bersenjata Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam menjaga keamanan nasional.
Secara khusus, para ulama tersebut menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei. Mereka menyebut Ali Khamenei mencapai syahadah setelah menghabiskan masa hidupnya dalam perjuangan panjang.

2 hours ago
1

















































