Jumali Minggu, 14 Juni 2026 15:27 WIB

Hasil pertandingan Qatar vs Swiss/ Instagram: fifaworldcup
Harianjogja.com, JOGJA— Kontroversi keputusan wasit pada pertandingan Grup B Piala Dunia 2026 antara Swiss dan Qatar memicu kritik tajam terhadap FIFA. Mantan pemain Manchester United, Gary Neville, mempertanyakan transparansi badan sepak bola dunia tersebut setelah tidak adanya publikasi visual dari teknologi offside semi-otomatis yang digunakan dalam laga tersebut.
Perdebatan bermula ketika Swiss memperoleh hadiah penalti pada babak pertama pertandingan yang berlangsung di San Francisco. Insiden terjadi saat Remo Freuler berupaya menyambut bola sundulan di dalam kotak penalti sebelum berbenturan dengan penjaga gawang Qatar, Mahmud Abunada.
Wasit asal Honduras, Hector Martinez, langsung menunjuk titik putih. Kesempatan itu kemudian dimaksimalkan Breel Embolo untuk membawa Swiss unggul 1-0 pada menit ke-17.
Namun, kontroversi muncul setelah tayangan ulang pertandingan memperlihatkan indikasi adanya posisi offside dalam proses terjadinya penalti. Sejumlah pengamat menilai Freuler kemungkinan sudah berada dalam posisi tidak sah sebelum kontak dengan kiper Qatar terjadi.
Neville yang bertugas sebagai komentator ITV menjadi salah satu sosok yang paling vokal mengkritik FIFA. Menurutnya, publik berhak mengetahui dasar keputusan yang diambil oleh perangkat pertandingan, terutama ketika teknologi telah digunakan.
"Kita semua berpikir itu offside. Jika FIFA memiliki bukti dari sistem otomatis tersebut, mengapa tidak ditunjukkan kepada publik?" ujar Neville dikutip dari TNT Sport.
Ia juga menilai sikap FIFA yang tidak menampilkan visual pemeriksaan offside justru berpotensi memperbesar ketidakpercayaan penggemar terhadap penggunaan teknologi dalam sepak bola.
Kritik serupa datang dari mantan striker Inggris Ian Wright. BBC Sports menyebut, Ian menilai kurangnya keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan membuat publik sulit menerima hasil yang terjadi di lapangan.
Di sisi lain, The Guardiant dalam laporannya menyebut FIFA sebenarnya memiliki prosedur tersendiri terkait penggunaan teknologi offside semi-otomatis. Berdasarkan protokol yang berlaku, grafis visual offside biasanya hanya ditampilkan kepada publik apabila proses pemeriksaan VAR menghasilkan perubahan keputusan wasit di lapangan.
Karena dalam kasus ini wasit tetap mempertahankan keputusan penalti untuk Swiss, visual offside tidak ditayangkan kepada penonton stadion maupun pemirsa televisi.
Analis wasit ITV sekaligus wasit berlisensi FIFA, Christina Unkel, menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan pada Piala Dunia 2026 memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dibanding sistem sebelumnya.
Menurutnya, sistem tersebut dirancang untuk memberikan keputusan yang lebih presisi sehingga mampu membantu perangkat pertandingan dalam menentukan posisi pemain secara objektif.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan polemik yang berkembang. Banyak penggemar menilai transparansi tetap menjadi elemen penting agar teknologi yang digunakan dalam sepak bola modern dapat diterima publik.
Laga sendiri akhirnya berakhir imbang 1-1. Qatar berhasil menyelamatkan satu poin setelah gol pada masa injury time menit ke-94 mengubah hasil pertandingan. Meski demikian, kontroversi penalti Swiss dan perdebatan mengenai keterbukaan FIFA menjadi isu yang lebih banyak dibicarakan dibanding hasil akhir pertandingan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































