Jumali Selasa, 28 Juli 2026 12:47 WIB

Presiden AS Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino./Instagram-gianni_infantino\r\n
Harianjogja.com, JOGJA—FIFA kembali menghadapi sorotan tajam dari Amerika Serikat. Kali ini, perhatian tertuju pada hubungan antara Presiden FIFA Gianni Infantino dan pemerintahan Presiden Donald Trump yang menjadi objek penyelidikan seorang anggota senior DPR AS dari Partai Demokrat, Jamie Raskin.
Langkah tersebut diumumkan melalui surat resmi yang dikirim Raskin kepada Infantino pada akhir pekan lalu. The Guardian mengungkapkan, dalam surat itu, Raskin meminta FIFA menyerahkan berbagai dokumen dan komunikasi yang berkaitan dengan hubungan organisasi sepak bola dunia tersebut dengan Trump maupun pihak-pihak yang berafiliasi dengannya.
Raskin yang menjabat sebagai anggota senior Komite Kehakiman DPR AS menyebut penyelidikannya akan berfokus pada dugaan adanya hubungan timbal balik atau quid pro quo antara FIFA dan pemerintahan Trump. Menurutnya, dugaan tersebut perlu ditelusuri karena berkaitan dengan berbagai keputusan yang memicu kontroversi selama dan setelah Piala Dunia 2026.
Dalam suratnya, Raskin meminta FIFA menyerahkan catatan mengenai segala bentuk hadiah, pembayaran, penghargaan, manfaat, atau bentuk nilai lainnya yang mungkin diberikan kepada Trump, anggota keluarganya, pejabat pemerintahannya, maupun organisasi yang terkait dengan mereka. Ia juga meminta akses terhadap sejumlah dokumen komunikasi antara FIFA dan pihak-pihak yang berhubungan dengan pemerintahan AS.
Tak hanya itu, Raskin meminta Infantino hadir dalam wawancara resmi yang akan ditranskrip oleh Komite Kehakiman DPR AS. Permintaan tersebut disertai tenggat waktu hingga 9 Agustus 2026 untuk menjadwalkan pertemuan dan menyerahkan dokumen yang diminta.
Salah satu isu yang ikut menjadi perhatian adalah keberadaan kantor FIFA di Trump Tower serta hubungan yang dinilai semakin dekat antara Infantino dan Trump dalam beberapa tahun terakhir. Hubungan tersebut menjadi bahan perdebatan setelah sejumlah kontroversi selama Piala Dunia 2026, termasuk dugaan campur tangan politik dalam beberapa keputusan yang berkaitan dengan turnamen.
Selain menyoroti hubungan politik, penyelidikan juga menyentuh praktik penjualan tiket Piala Dunia 2026. Raskin mempertanyakan penggunaan sistem harga dinamis yang menyebabkan harga tiket melonjak dan memicu keluhan dari sebagian suporter. Ia menilai praktik tersebut perlu ditinjau untuk memastikan tidak merugikan konsumen.
Di sisi lain, FIFA membantah berbagai tuduhan yang menyebut organisasinya mendapatkan perlakuan khusus atau tunduk pada tekanan politik. Dalam pernyataan terbuka yang disampaikan setelah berakhirnya Piala Dunia 2026, Infantino justru menuduh sejumlah pihak menyebarkan informasi yang menyesatkan dan mengabaikan keberhasilan turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Infantino menegaskan bahwa FIFA tetap bekerja secara independen dan seluruh keputusan organisasi dijalankan sesuai mekanisme yang berlaku. Ia juga menyebut berbagai kritik yang diarahkan kepada FIFA tidak mencerminkan keseluruhan keberhasilan penyelenggaraan turnamen.
Meski demikian, tekanan terhadap FIFA belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebelum surat Raskin muncul, sejumlah anggota Parlemen Eropa juga sempat meminta adanya peninjauan terhadap beberapa keputusan FIFA yang dianggap kontroversial selama Piala Dunia 2026.
Hingga kini belum ada indikasi bahwa penyelidikan tersebut akan berujung pada proses hukum terhadap FIFA maupun Infantino. Namun langkah yang diambil Raskin menambah daftar panjang kontroversi yang membayangi badan sepak bola dunia itu setelah berakhirnya Piala Dunia 2026.
Perhatian publik kini tertuju pada respons FIFA terhadap permintaan dokumen dan wawancara yang diajukan DPR AS. Jika organisasi tersebut memenuhi seluruh permintaan itu, penyelidikan berpotensi membuka lebih banyak informasi mengenai hubungan FIFA dengan pemerintahan Trump yang selama ini menjadi bahan spekulasi di dunia sepak bola internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































