Harianjogja.com, JAKARTA—Isu penundaan gaji kembali mencuat di tengah bergulirnya Super League Indonesia 2025/2026. Kali ini, sorotan mengarah ke PSBS Biak setelah laporan keterlambatan pembayaran pemain mencuat ke publik.
Kabar tersebut bermula dari beredarnya surat anonim di grup WhatsApp pewarta sepak bola pada Rabu (15/4/2026) yang berisi keluhan soal gaji yang belum dibayarkan selama dua setengah hingga tiga bulan, serta fasilitas dasar yang tidak terpenuhi.
Dalam surat itu disebutkan kebutuhan mendasar seperti air minum usai latihan, makanan untuk pemain lokal, hingga kendaraan dan tempat tinggal juga tidak tersedia.
Salah satu pemain PSBS Biak, Pablo Andrade, sempat mengunggah surat tersebut melalui Instagram Story, meski kini sudah tidak dapat diakses karena batas waktu tayang.
APPI Turun Tangan
Kasus ini kemudian sampai ke Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) yang memastikan adanya tunggakan gaji selama tiga bulan.
APPI menyebut proses penanganan masih berjalan sesuai ketentuan hukum dan berharap klub segera memenuhi kewajibannya kepada pemain.
Namun, kasus ini bukan yang pertama terjadi di sepak bola Indonesia.
Sebelumnya, pelatih Bernardo Tavares sempat mengeluhkan keterlambatan gaji saat masih menangani PSM Makassar pada September tahun lalu.
Menjelang musim 2025/2026, Wakil Ketua APPI Achmad Jufriyanto bahkan mengungkap ada 15 pemain dari empat klub berbeda yang belum menerima gaji, dengan total tunggakan mencapai Rp4,3 miliar.
Kasus paling tragis pernah terjadi pada 2012, ketika pemain asal Paraguay Diego Mendieta meninggal dunia setelah sakit dan tidak mendapat perawatan memadai akibat gaji yang belum dibayarkan oleh klubnya saat itu, Persis Solo.
Masalah Lama yang Terus Berulang
Penundaan gaji dinilai berakar dari lemahnya pengelolaan keuangan klub. Banyak tim memulai musim dengan belanja besar demi target juara, namun kesulitan menjaga stabilitas finansial di tengah kompetisi.
Ambisi mendatangkan pelatih, pemain, dan staf berkualitas kerap tidak diimbangi perencanaan keuangan yang matang.
Di sisi lain, sebagian besar klub masih bergantung pada pemilik atau manajemen sebagai sumber utama pendanaan.
Pendapatan dari sponsor, tiket, merchandise, hingga hak siar belum merata. Klub dengan basis suporter besar cenderung lebih stabil, sementara lainnya kesulitan menjaga arus kas.
Biaya operasional juga tidak kecil. Untuk satu laga tandang, pengeluaran transportasi, hotel, hingga konsumsi untuk minimal 23 orang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Risiko di Balik Ketidakpastian
Operator liga ILeague sebenarnya telah menerapkan sistem lisensi dengan lima aspek penilaian, mulai dari olahraga hingga keuangan.
Namun, faktanya sejumlah klub masih lolos dengan status catatan perbaikan, termasuk PSBS Biak.
Dari sisi federasi, PSSI telah memiliki mekanisme penyelesaian sengketa melalui National Dispute Resolution Chamber (NDRC).
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut NDRC telah menangani lebih dari 200 kasus, mayoritas terkait tunggakan gaji pemain.
Situasi ini menunjukkan bahwa masalah klasik belum sepenuhnya terselesaikan.
Bagi pemain, gaji bukan sekadar angka, melainkan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari keluarga hingga pendidikan anak.
Jika kondisi ini terus berulang, risiko yang lebih besar mengintai, termasuk potensi praktik pengaturan pertandingan akibat tekanan ekonomi yang dihadapi pemain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































