Gegara AS-Israel Vs Iran, SMF Was-Was Nasib Subsidi Rumah-Ekonomi RI

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran baru terhadap sektor riil dalam negeri. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, hingga Israel dinilai berpotensi memperburuk tekanan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Chief Economist PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), Martin Daniel Siyaranamual, mengatakan situasi global yang memanas membuat prospek 2026 tidak lagi semanis yang dibayangkan, khususnya bagi sektor perumahan dan industri turunannya.

"2026 itu bukan tahun yang penuh bunga dan pelangi buat sektor perumahan. Implikasinya sudah barang tentu PT SMF harus kerja lebih keras, kerja lebih baik untuk bisa memenuhi mandat yang sudah diberikan," ujar Martin dalam konferensi pers SMF di Artotel, Rabu (4/3/2026).

Menurutnya, bahkan tanpa eskalasi konflik terbaru, tren perlambatan ekonomi global sudah lebih dulu terlihat sejak akhir 2025. Negara berkembang memang relatif lebih baik dibandingkan negara maju, namun tekanan tetap terasa.

"Indonesia ini termasuk negara yang masih tumbuh di angka 5 persenan. Tapi pertanyaannya, apakah 5 persen cukup untuk membawa Indonesia lepas dari middle income countries? Jawabannya nggak cukup," tegasnya.

Adapun konflik di Timur Tengah memiliki dampak langsung terhadap harga energi global. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi energi dunia, termasuk gas dan minyak bumi.

"Iran itu salah satu pengekspor utama gas bumi. Dia substitusi terdekat dari minyak bumi dan batu bara. Artinya harga minyak bumi pasti akan naik. Per hari ini sudah menyentuh 90 sampai 92 dolar per barel, dan saya nggak akan kaget kalau tembus 100 sampai US$120/barel," katanya.

Lonjakan harga minyak akan menekan ruang fiskal pemerintah. Beban subsidi energi berpotensi meningkat signifikan di tengah kebutuhan pembiayaan program prioritas lain.

"Implikasinya jelas, beban subsidi naik. Artinya kemampuan fiskal akan semakin terbatas. Tinggal dilihat apakah ada prioritas lebih untuk sektor perumahan atau tidak," ujarnya.

Bagi sektor riil, terutama manufaktur dan properti, tekanan tersebut bisa berdampak berantai. Ketika subsidi membengkak atau harga energi dilepas mengikuti pasar, daya beli dan biaya produksi sama-sama tertekan.

Martin menilai pemerintah dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah antara memperlebar defisit atau membiarkan inflasi naik akibat penyesuaian harga energi.

"Pilihan pemerintah cuma dua, menambah subsidi energi atau membiarkan harga naik. Masing-masing punya biaya ekonomi dan biaya sosial," katanya.

Jika tekanan fiskal membesar dan konsumsi rumah tangga melemah, sektor perumahan akan menjadi salah satu yang paling terdampak karena sifatnya yang sangat sensitif terhadap pendapatan dan suku bunga.

"Kalau sampai sektor riil terpukul dan pengangguran naik, lupakan bicara soal perumahan. Orang akan mikir bagaimana makan hari ini dulu," sebut Martin.

(kiri-kanan) Martin Daniel Siyaranamual - Chief Economist SMF
- ⁠Bonai Subiakto - Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF
- ⁠Ananta Wiyogo - Direktur Utama SMF
- ⁠Heliantopo - Direktur Bisnis SMF
- ⁠Primasari Setyaningrum - Corporate Secretary SMF dalam Konferensi Pers SMF di Artotel Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026). (Ferry Sandi/ CNBC Indonesia)Foto: Ferry Sandi
(kiri-kanan) Martin Daniel Siyaranamual - Chief Economist SMF- ⁠Bonai Subiakto - Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko SMF- ⁠Ananta Wiyogo - Direktur Utama SMF- ⁠Heliantopo - Direktur Bisnis SMF- ⁠Primasari Setyaningrum - Corporate Secretary SMF dalam Konferensi Pers SMF di Artotel Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026). (Ferry Sandi/ CNBC Indonesia)

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|