Geger Skandal Rp4,7 T di Malaysia Libatkan Raksasa Chip Arm Holdings

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi Anti Korupsi Malaysia (MACC) mengonfirmasi pada hari Rabu (4/3/2026) bahwa pihaknya tengah menyelidiki dugaan penyalahgunaan kekuasaan, penipuan, dan masalah tata kelola yang terkait dengan kesepakatan senilai 1,11 miliar ringgit atau setara US$280 juta (Rp4,72 triliun) antara pemerintah Malaysia dan raksasa chip asal Inggris, Arm Holdings.

Malaysia, yang merupakan salah satu eksportir chip terbesar di dunia, sebelumnya menandatangani perjanjian dengan perusahaan tersebut pada Maret lalu untuk menggenjot produksi semikonduktor kelas atas di tengah guncangan pasar global akibat perang dagang teknologi antara Amerika Serikat dan China.

"Kami telah memanggil total 12 saksi sejauh ini dari berbagai lembaga pemerintah, terutama dari kementerian ekonomi, otoritas pengembangan investasi Malaysia, dan juga dari kementerian perdagangan serta beberapa lembaga lainnya," ungkap Kepala MACC Azam Baki kepada AFP.

Azam menambahkan bahwa seorang mantan menteri termasuk di antara mereka yang dipanggil untuk memberikan keterangan, meskipun ia menolak untuk menyebutkan nama individu tersebut secara spesifik. Sebagai informasi, Rafizi Ramli menjabat sebagai Menteri Ekonomi Malaysia pada saat itu, sementara Tengku Zafrul Aziz memegang portofolio Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri.

Meskipun Malaysia merupakan pemain kunci dalam sektor chip yang vital, selama ini negara tersebut sebagian besar hanya berfokus pada layanan pengemasan, perakitan, dan pengujian yang berada di lini pasar tingkat rendah. Perjanjian dengan Arm Holdings yang dimiliki Softbank ini dimaksudkan agar Malaysia mendapatkan akses desain chip dan teknologi lainnya guna beralih ke produksi bernilai tambah lebih tinggi seperti fabrikasi wafer dan desain sirkuit terpadu.

Pemerintah Malaysia menyatakan pada saat itu bahwa mereka akan membayar US$250 juta (Rp4,22 triliun) selama satu dekade untuk menerima dukungan teknis dari perusahaan Inggris tersebut.

"Kami akan menyelidiki masalah ini secara adil dan profesional," tegas Azam Baki sembari menambahkan bahwa lebih banyak saksi akan dipanggil untuk membantu proses penyelidikan lebih lanjut.

Data dari Perusahaan Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Malaysia menunjukkan bahwa ekspor semikonduktor Malaysia bernilai 387,98 miliar ringgit atau setara US$87,48 billion (Rp1.476,6 triliun) pada tahun 2024, yang menempatkan negara tersebut dalam jajaran 10 eksportir chip teratas dunia.

Pulau Penang di Malaysia Utara, yang menjadi rumah bagi sejumlah fasilitas manufaktur, sering dijuluki sebagai Silicon Valley-nya Malaysia. Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada April 2024 juga telah mengumumkan rencana besar untuk membangun taman desain semikonduktor masif sebagai upaya membawa negara tersebut melampaui sekadar produksi chip mentah.

Sementara itu, Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara) juga telah resmi menandatangani kerangka kerja sama dengan Arm Limited. Hal ini untuk mempercepat penguasaan teknologi semikonduktor nasional, terutama pada aspek desain chip untuk pusat data, otomotif, dan kecerdasan buatan (AI).

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|