Gunung Merapi Terus Muntahkan Lava dan Awan Panas

1 hour ago 4

Gunung Merapi Terus Muntahkan Lava dan Awan Panas

Foto pengamatan visual BPPTKG menunjukkan guguran awan panas di Gunung Merapi, Kamis (25/1/2024). - ist/BPPTKG

Harianjogja.com, SLEMAN—Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi dan hingga kini tetap berstatus Level III (Siaga). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat satu kali kejadian awan panas guguran serta ratusan guguran lava yang mengarah ke sejumlah hulu sungai selama periode pengamatan 17–23 Juli 2026.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa dalam laporan pekanan tersebut teramati satu kejadian awan panas guguran. Namun, arah dan jarak luncurnya tidak dapat ditentukan karena visual Gunung Merapi tertutup kabut saat kejadian berlangsung.

Selain awan panas guguran, aktivitas guguran lava masih terjadi secara intensif di sejumlah sektor lereng Merapi. BPPTKG mencatat empat kali guguran lava ke arah hulu Kali Boyong dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.

Kemudian, sebanyak 61 kali guguran lava mengarah ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Aktivitas serupa juga tercatat terjadi sebanyak 13 kali ke arah hulu Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimum yang sama.

"Sebanyak 73 kali guguran lava terjadi ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimum 2.000 meter," terang Agus saat dikonfirmasi pada Minggu (26/7/2026).

BPPTKG juga melakukan analisis terhadap perkembangan kubah lava Gunung Merapi. Berdasarkan hasil analisis foto udara, volume Kubah Barat Daya mengalami penambahan sekitar 5.700 meter kubik sehingga kini mencapai 4.019.200 meter kubik.

Sementara itu, volume Kubah Tengah belum dapat diukur karena sebagian visual tertutup asap. Adapun hasil pengukuran sebelumnya menunjukkan volume Kubah Tengah sebesar 2.368.800 meter kubik.

"Selanjutnya, hasil analisis foto termal menunjukkan suhu Kubah Barat Daya dan Kubah Tengah terukur 243 derajat Celsius, relatif tetap dari pengukuran sebelumnya," tegasnya.

Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental tersebut, BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dengan karakter erupsi efusif. Oleh karena itu, status aktivitas Gunung Merapi tetap ditetapkan pada tingkat "SIAGA".

"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," terang Agus.

BPPTKG menjelaskan bahwa potensi bahaya Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Kali Krasak, dan Kali Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.

Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer.

"Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak," tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|