Haji Tahun Ini Lebih Panas dari Tahun-Tahun Sebelumnya

1 day ago 14

Jamaah ibadah haji 1447 Hijriah di Padang Arafah, Mina, Makkah, Arab Saudi. World Weather Attribution (WWA) mengatakan perubahan iklim membuat musim haji tahun ini lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Organisasi ilmuwan-ilmuwan iklim, World Weather Attribution (WWA) mengatakan perubahan iklim membuat musim haji tahun ini lebih panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Iklim di Arab Saudi sudah panas tapi perubahan iklim membuat risiko heat-stroke dan penyakit lain terkait suhu tinggi melonjak tajam.

"Seiring dengan kenaikan suhu akibat perubahan iklim, risiko-risiko tersebut semakin parah," tulis dua ilmuwan WWA, Clair Barnes dan Friederike Otto dalam laporan mereka, Jumat (29/5/2026).  

WWA mencatat pemerintah Arab Saudi sudah berusaha menekan risiko-risiko tersebut. Seperti membangun pedestrian yang lebih teduh, tenda-tenda dengan pendingin udara dan memperluas layanan kesehatan.

Berdasarkan analisa WWA, suhu di Mekah pada Mei 2026 hampir sepanas rata-rata puncak musim panas: Juni, Juli dan Agustus tahun 1970 sampai 1990 yang mencapai 31,2 derajat Celsius. Para ilmuwan menganalisis dua hal pada bulan Mei di wilayah daratan sekitar Mekkah yakni: suhu rata-rata sepanjang bulan dan suhu maksimum harian bulan Mei.

Karena tidak adanya data jangka-panjang dari stasiun cuaca lokal para peneliti menggunakan dua sumber data alternatif, ERA Reanalysis sebagai sumber data utama dan NOAA CPC sebagai data pendukung. Laporan ini membandingkan perubahan peluang terjadinya panas ekstrem saat ini dengan masa pra-industri dari tahun 1850 sampai 1900.

Namun, peneliti memberikan catatan penting: hampir semua pemanasan di wilayah tersebut terjadi setelah tahun 1970. Artinya, cuaca panas ekstrem yang dinilai langka pada zaman pra-industri, sebenarnya juga masih sangat langka pada periode tahun 1970-an sebelum lonjakan pemanasan global terjadi.

Menurut WWA, suhu maksimum harian pada Mei yang mencapai 40 derajat Celsius kini semakin sering terjadi dibandingkan dunia yang 1,3 derajat Celsius lebih dingin sebelum era pemanasan global saat ini. Jika sebelumnya suhu seperti itu lebih umum terjadi pada Juni hingga Agustus, kini kondisi serupa diperkirakan muncul setiap dua hingga tiga tahun pada Mei.

Selain itu, suhu puncak pada Mei kini sekitar 2 derajat Celsius lebih panas dibandingkan kondisi iklim masa lalu. Sementara suhu rata-rata Mei disebut meningkat sekitar 3,5 derajat Celsius dibandingkan iklim praindustri.

Laporan tersebut menilai suhu rata-rata Mei di atas 32 derajat Celsius kini diperkirakan terjadi hampir setiap tahun. Kondisi itu menunjukkan perubahan iklim mendorong gelombang panas ekstrem datang lebih awal di Arab Saudi.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|