Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen, Isu Damai AS-Iran Redakan Pasar

4 hours ago 2

Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen, Isu Damai AS-Iran Redakan Pasar

Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga minyak dunia mengalami tekanan signifikan sepanjang pekan ini setelah muncul sinyal kuat mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen tersebut membuat pelaku pasar merespons dengan aksi jual sehingga harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama mencatat penurunan lebih dari 6% dalam sepekan.

Berdasarkan data perdagangan Jumat (12/6/2026), kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 3,4% ke level US$87,33 per barel. Posisi tersebut menjadi penutupan terendah sejak 5 Maret 2026. Secara mingguan, minyak acuan global itu terkoreksi 6,2% dan mencatatkan penurunan pada tiga dari empat pekan terakhir.

Di pasar Amerika Serikat, kontrak minyak mentah WTI pengiriman Juli juga bergerak turun 3,2% ke posisi US$84,88 per barel. Angka tersebut menjadi level terendah sejak 17 April 2026. Dalam sepekan terakhir, harga WTI tercatat merosot 6,3%.

Pelemahan harga minyak dunia dipicu pernyataan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang mengungkapkan bahwa AS dan Iran disebut telah mencapai naskah final yang disepakati dalam sebuah perjanjian damai. Pakistan, kata Sharif, kini berkoordinasi dengan kedua negara untuk menyelesaikan tahapan lanjutan dari proses tersebut.

"Perdamaian tidak pernah sedekat ini seperti sekarang," ujar Sharif dalam unggahannya di platform X.

Meski demikian, hingga kini belum ada rincian resmi yang diumumkan terkait isi kesepakatan tersebut. Optimisme pasar semakin menguat setelah seorang pejabat senior AS menyampaikan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dalam beberapa hari ke depan berada pada kisaran 80% hingga 85%, walaupun proses negosiasi belum sepenuhnya selesai.

Sebelumnya, harga minyak juga telah bergerak turun sejak Kamis setelah kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan bahwa rancangan kesepakatan damai berpotensi membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mencabut sanksi ekspor minyak terhadap Iran.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis menyatakan dirinya membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Ia bahkan menyebut nota kesepahaman antara kedua negara berpeluang ditandatangani paling cepat akhir pekan ini dan kemungkinan berlangsung di Eropa.

"Negosiasi telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan telah disetujui."

Namun, pemerintah Iran belum sepenuhnya mengonfirmasi perkembangan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa belum ada perjanjian damai yang benar-benar difinalisasi. Selain itu, media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan belum akan langsung kembali normal seperti sebelum konflik terjadi.

Analis Strategi Investasi Raymond James, Pavel Molchanov, menilai berbagai sinyal terobosan dalam negosiasi AS-Iran sebenarnya telah beberapa kali muncul dalam dua bulan terakhir. Akan tetapi, kedua pihak hingga kini belum benar-benar mencapai tahap akhir kesepakatan.

"Namun secara umum, WTI masih bergerak dalam rentang yang terbatas sejak gencatan senjata 7 April, yakni di kisaran akhir US$80-an hingga awal US$100-an," jelasnya.

Molchanov memperkirakan bahwa sekalipun kesepakatan damai ditandatangani bulan ini, normalisasi penuh lalu lintas kapal di Selat Hormuz kemungkinan baru dapat terealisasi pada akhir Juli atau bahkan lebih lama.

Di sisi lain, prospek harga minyak dunia juga mendapat tekanan dari revisi perkiraan yang dilakukan Goldman Sachs. Tim analis yang dipimpin Co-Head of Global Commodities Research sekaligus Head of Oil Research, Daan Struyven, memangkas proyeksi rata-rata harga Brent tahun depan menjadi US$80 per barel dari sebelumnya US$85 per barel.

Penyesuaian itu didasarkan pada potensi peningkatan pasokan minyak dari sejumlah negara produsen seperti Amerika Serikat, Brasil, Guyana, Venezuela, dan Uni Emirat Arab. Selain faktor pasokan, Goldman Sachs juga menyoroti perlambatan permintaan minyak, terutama dari China, seiring percepatan penggunaan energi alternatif dan kendaraan listrik.

Meskipun demikian, Goldman Sachs masih memperkirakan harga Brent dapat bertahan pada rata-rata US$90 per barel pada kuartal IV/2026. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa dampak gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz masih dapat ditahan oleh kondisi defisit pasokan global yang tidak sebesar perkiraan sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|