Harga Minyak Dunia Melesat Lagi, Brent Tembus US$ 106

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia kembali menanjak tajam pada perdagangan Jumat pagi, ketika pasar energi global menghadapi gangguan pasokan.

Jalur sempit bernama Selat Hormuz urat nadi pengiriman minyak dunia kini kembali dipenuhi ketegangan setelah Iran menyita kapal kargo dan Amerika Serikat memperketat operasi lautnya.

Berdasarkan data Refinitiv pada Jumat (24/4/2026) pukul 08.05 WIB, harga Brent berada di US$106,97 per barel, melonjak 1,81% dibanding penutupan sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$97,5 per barel, bertambah 1,72%.

Kenaikan ini memperpanjang reli minyak dalam sepekan terakhir. Jika dibanding posisi 17 April, Brent telah terbang dari US$90,38 menjadi US$106,97 per barel. Dalam tujuh hari perdagangan, lonjakannya mencapai lebih dari 18%. WTI bahkan naik dari US$83,85 menjadi US$97,5 per barel, atau sekitar 16%.

Selat Hormuz adalah jalur vital tempat sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG global biasa melintas. Ketika kapal-kapal mulai ditahan, lalu lintas tanker menyusut, dan izin melintas diperebutkan dua kekuatan militer, trader segera menambah premi risiko ke harga minyak.

Iran pada Kamis waktu setempat menayangkan video pasukan komando yang menaiki kapal kargo raksasa MSC Francesca menggunakan speedboat. Teheran menyebut dua kapal ditangkap karena mencoba melintasi selat tanpa izin. Pesannya jelas: Iran ingin menunjukkan bahwa mereka masih mampu mengganggu salah satu jalur energi terpenting dunia.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington berada dalam "kendali total" atas selat tersebut. Ia bahkan memerintahkan Angkatan Laut menindak kapal Iran yang menanam ranjau serta mempercepat operasi pembersihan jalur laut. AS juga disebut telah mengalihkan 33 kapal sejak blokade dimulai, serta menaiki tanker lain di Samudra Hindia.

Pasar kini melihat dua blokade berjalan bersamaan. Iran menuntut izin melintas dari pihaknya, sementara AS mengawasi arus kapal dan menekan pelayaran Iran. Dalam kondisi seperti ini, satu keterlambatan pengiriman saja bisa mendorong biaya logistik, premi asuransi, dan harga energi lebih tinggi.

Dari sisi geopolitik, ancaman belum surut. Israel menyatakan siap kembali menyerang Iran bila mendapat lampu hijau dari Washington. Ucapan itu membuat pasar sadar bahwa gencatan senjata saat ini rapuh, tipis, dan bisa pecah sewaktu-waktu.

CNBC Indonesia

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|