Harga Ponsel Naik, Saatnya Ubah Cara Memilih Smartphone

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kenaikan harga smartphone sepanjang 2026 membuat konsumen perlu mengubah cara menilai sebuah perangkat. Jika selama ini kapasitas RAM, chipset terbaru, dan angka spesifikasi menjadi pertimbangan utama, kini daya tahan baterai, konsistensi performa, serta umur pakai justru semakin menentukan.

Perubahan itu tidak terlepas dari kelangkaan chip memori global. Produsen DRAM dan NAND semakin banyak mengalihkan kapasitas produksinya ke chip untuk pusat data kecerdasan buatan karena menawarkan margin keuntungan jauh lebih tinggi dibanding memori untuk perangkat konsumen.

Akibatnya, pasokan memori untuk smartphone menjadi lebih ketat, sementara permintaan tetap tinggi. Tekanan biaya kemudian diteruskan ke harga jual perangkat maupun penyesuaian spesifikasi.

Kondisi tersebut membuat konsumen tidak bisa lagi semata-mata menilai smartphone dari seberapa besar RAM atau seberapa baru chipset yang digunakan. Pertanyaan yang kini lebih relevan adalah seberapa lama ponsel bisa dipakai secara nyaman, aman, dan stabil.

Menunggu harga kembali turun ke level 2025 juga belum tentu menjadi pilihan realistis. Sejumlah lembaga riset memperkirakan tekanan pada harga memori masih dapat berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.

Pabrik memori baru diperkirakan baru mencapai kapasitas produksi penuh pada 2027. IDC juga memproyeksikan tekanan harga memori dapat berlanjut setidaknya hingga 2028, sementara sejumlah eksekutif industri memperingatkan ketimpangan pasokan berpotensi bertahan lebih lama.

Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices IDC, Nabila Popal, menyebut perubahan tersebut menuntut penyesuaian strategi dari produsen maupun konsumen. “Era smartphone ultramurah telah berakhir,” ujar Popal.

Pernyataan itu menggambarkan perubahan struktur biaya industri smartphone. Vendor yang mampu menyesuaikan produk dengan struktur biaya baru sekaligus mempertahankan minat konsumen pada tingkat harga lebih tinggi diperkirakan akan memiliki posisi lebih kuat.

Jangan Lagi Terpaku RAM

Bagi konsumen, perubahan tersebut berarti ukuran “ponsel bagus” juga perlu diperbarui. Masa dukungan sistem operasi dan pembaruan keamanan kini menjadi faktor penting karena menentukan berapa lama perangkat masih aman dan nyaman digunakan.

Konsumen juga perlu memperhatikan bagaimana performa sebuah perangkat setelah digunakan selama satu hingga dua tahun, bukan hanya kecepatannya saat pertama kali diluncurkan.

Daya tahan baterai menjadi faktor lain yang semakin penting. Angka kapasitas baterai dalam miliampere hour belum tentu menggambarkan ketahanan sesungguhnya karena efisiensi chipset, layar, perangkat lunak, dan pola pemakaian juga sangat memengaruhi konsumsi daya.

Ketahanan fisik dan ketersediaan suku cadang juga tidak kalah penting. Semakin mahal harga perangkat baru, semakin besar nilai ekonomis dari smartphone yang bisa dipertahankan lebih lama melalui perbaikan dan penggantian komponen.

Harga Naik, Spesifikasi Menyesuaikan

Ketika harga komponen melonjak, produsen smartphone pada dasarnya memiliki dua pilihan, yakni menaikkan harga jual atau menyesuaikan konfigurasi perangkat. Sepanjang 2026, kedua strategi itu berjalan bersamaan.

Data IDC memproyeksikan harga jual rata-rata smartphone global pada 2026 naik 27,6 persen menjadi 581 dolar AS atau sekitar Rp10,3 juta. Angka itu lebih tinggi dibanding proyeksi awal Februari 2026 sebesar 523 dolar AS.

Kenaikan biaya juga membuat sebagian produsen menahan peningkatan kapasitas memori. Sejumlah smartphone flagship pada 2026 tetap menggunakan RAM 12 GB dan tidak langsung beralih ke 16 GB.

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|