Hotel Raup Untung Besar Selama Piala Dunia 2026 Berkat Harga Kamar

19 hours ago 5

Jumali

Jumali Jum'at, 24 Juli 2026 08:47 WIB

Hotel Raup Untung Besar Selama Piala Dunia 2026 Berkat Harga Kamar

Foto ilustrasi hotel. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi panggung persaingan tim-tim terbaik dunia, tetapi juga menghadirkan peluang bisnis besar bagi industri perhotelan Amerika Serikat. Menariknya, lonjakan pendapatan hotel selama turnamen berlangsung ternyata bukan terutama karena meningkatnya jumlah tamu, melainkan akibat kenaikan tarif kamar yang signifikan.

Temuan tersebut terungkap dalam data terbaru CoStar, perusahaan penyedia data dan analisis industri properti yang menaungi STR (Smith Travel Research). Analisis tersebut menunjukkan bahwa hotel-hotel di kota tuan rumah berhasil meningkatkan pendapatan meski jumlah kamar yang terjual tidak mengalami pertumbuhan berarti.

Fenomena ini menjadi gambaran bagaimana event olahraga berskala global dapat mengubah strategi bisnis pelaku industri perhotelan. Ketika permintaan diperkirakan meningkat, hotel memilih memaksimalkan pendapatan melalui penyesuaian harga kamar ketimbang mengandalkan kenaikan okupansi.

Salah satu contoh paling mencolok terjadi di Philadelphia. Pada hari pertandingan Piala Dunia 2026, pendapatan hotel meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut terutama ditopang oleh kenaikan tarif kamar rata-rata sebesar 48 persen hingga mencapai sekitar 367 dollar AS atau setara Rp6,61 juta per malam.

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah kota tuan rumah lainnya, termasuk Atlanta. Menurut CoStar, jumlah kamar yang terjual selama turnamen justru berada di bawah capaian tahun sebelumnya. Meski demikian, pendapatan hotel tetap tumbuh sekitar 15 persen berkat kenaikan harga kamar yang cukup agresif.

Data periode Minggu (21/7/2026) hingga Sabtu (27/7/2026) memperlihatkan bahwa hotel-hotel di 11 kota tuan rumah Piala Dunia 2026 mencatat kenaikan pendapatan rata-rata per kamar yang tersedia atau revenue per available room (RevPAR) sebesar 16,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menariknya, peningkatan tersebut terjadi ketika permintaan kamar justru mengalami penurunan. CoStar mencatat permintaan turun 2,9 persen secara tahunan, sementara tingkat hunian hotel berkurang 2,8 poin persentase.

Sebaliknya, tarif rata-rata kamar melonjak hingga 21 persen. Faktor inilah yang menjadi mesin utama pertumbuhan pendapatan hotel selama penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Jika dihitung sejak kompetisi dimulai pada 11 Juni hingga 27 Juli 2026, pendapatan rata-rata per kamar hotel di kota-kota tuan rumah meningkat 18,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dampak positif juga dirasakan industri perhotelan secara nasional. Pada pekan 21-27 Juli 2026, pendapatan rata-rata per kamar hotel di seluruh Amerika Serikat mencapai 129 dollar AS atau sekitar Rp2,3 juta per malam. Angka tersebut meningkat 9,6 persen dibandingkan tahun lalu dan menjadi rekor mingguan baru menurut data CoStar.

Di sisi lain, tingkat hunian hotel nasional tercatat sebesar 72,2 persen atau hanya naik sekitar 0,3 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data ini semakin memperkuat kesimpulan bahwa pertumbuhan pendapatan lebih banyak dipengaruhi oleh strategi harga dibandingkan peningkatan jumlah tamu.

Kinerja hotel bahkan semakin membaik saat memasuki fase gugur. Pada periode Minggu (28/6/2026) hingga Sabtu (4/7/2026), yang bertepatan dengan babak knockout Piala Dunia serta libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, pendapatan rata-rata per kamar hotel di kota-kota tuan rumah melonjak 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tarif kamar tetap bertahan di level tinggi, sekitar 21 persen lebih mahal dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Berbeda dengan pekan-pekan awal turnamen, pada fase ini tingkat hunian mulai menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,1 persen, sementara permintaan kamar meningkat 2,4 persen.

Di antara seluruh kota tuan rumah, Miami menjadi pasar hotel dengan performa paling impresif. CoStar mencatat pendapatan rata-rata per kamar hotel di kota tersebut naik 51,6 persen pada periode 21-27 Juli 2026.

Pencapaian itu didorong oleh lonjakan tarif kamar rata-rata sebesar 51,1 persen. Sementara itu, tingkat hunian hanya naik tipis sekitar 0,3 persen, menegaskan bahwa kenaikan harga menjadi faktor dominan dalam peningkatan pendapatan.

Fenomena selama Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa ajang olahraga internasional tidak selalu menghasilkan lonjakan besar jumlah tamu hotel. Namun, ekspektasi tingginya permintaan memungkinkan pelaku industri memaksimalkan pendapatan melalui strategi tarif yang lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|