Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi I di zona merah, Rabu (26/2/2025). Padahal IHSG dibuka meyakinkan atau naik 1% pagi tadi.
Hingga jeda makan siang, IHSG ditutup turun 0,37% ke level 6.562,89. Sebanyak 218 saham naik, 373 turun, dan 191 tidak bergerak.
Nilai transaksi hingga sesi I berakhir mencapai Rp4,96 triliun yang melibatkan 8,92 miliar saham dalam 614.852 kali transaksi.
Hanya ada tiga sektor yang menghijau pada perdagangan sesi I hari ini, yaitu teknologi (4,31%), utilitas (2,76%), dan kesehatan (0,1%). Sisanya berada di zona merah dengan penurunan paling dalam terjadi pada konsumer primer yang merosot 1,65%.
Sektor teknologi hari ini ditopang oleh DCI Indonesia (DCII). Setelah melepas suspensi, DCII kembali terbang hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA).
DCII pada sesi I naik 20% ke level 116.125. Saham ini berkontribusi 25,55 indeks poin, tetapi belum mampu menjadi penopang IHSG untuk tetap berada di zona hijau.
Adapun secara umum, IHSG masih mendapat tekanan jual asing sejak awal pekan. Dalam dua hari terakhir, asing tercatat membukukan net sell jumbo. Pada Senin (24/2/2025), asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp3,47 triliun di seluruh pasar. Lalu pada perdagangan kemarin, Selasa (25/2/2025), asing net sell Rp 1,6 triliun.
Sementara itu, pelaku pasar hari ini akan mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam ataupun luar negeri. Ambruknya Wall Street, peluncuran bullion bank, hingga pernyataan pemangku kebijakan Indonesia akan menjadi sentimen pasar hari ini.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Morgan Stanley resmi menurunkan peringkat saham Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari posisi equal-weight (EW) menjadi underweight (UW). Langkah ini diambil seiring dengan melemahnya prospek pertumbuhan ekonomi domestik serta meningkatnya tekanan terhadap profitabilitas sektor siklikal.
Dalam laporan terbarunya, Morgan Stanley menyoroti pergeseran tren return on equity (ROE) yang kini lebih menguntungkan China dibanding Indonesia. Analis mencatat bahwa ROE saham-saham di China mulai menunjukkan pemulihan, didorong oleh perbaikan kinerja operasional serta efisiensi neraca keuangan di sektor-sektor dengan bobot besar dalam indeks MSCI.
Sebaliknya, Indonesia menghadapi tantangan akibat perlambatan ekonomi yang berdampak negatif pada sektor siklikal domestik. Tim analis Morgan Stanley tetap berhati-hati terhadap prospek pemulihan dalam waktu dekat dan lebih memilih eksposur ke pasar Asia lainnya yang dianggap lebih menjanjikan.
Selain itu, tekanan terhadap pasar modal di RI juga datang dari industri perbankan. Jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) perorangan terus mengalami kontraksi dalam tiga bulan terakhir, menunjukkan adanya peningkatan penarikan dana oleh masyarakat.
Data Bank Indonesia (BI) mencatat DPK perorangan pada Januari 2025 terkontraksi 2,6% (yoy), lebih dalam dari 2,1% pada Desember 2024. Sementara itu, DPK korporasi justru tumbuh 14,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 10,7%.
(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Rupiah Semringah Saat IHSG Terperosok ke Level 6.500-an
Next Article IHSG Dibuka Merah, Balik Lagi ke Level 7.400-an