IMF dan Bank Dunia Peringatkan Krisis Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global

1 hour ago 2

Krisis yang berkepanjangan di Selat Hormuz mengancam perekonomian negara-negara di Belahan Bumi Utara. Peringatan tersebut disampaikan dalam pernyataan bersama Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), dan Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO). (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Krisis yang berkepanjangan di Selat Hormuz mengancam perekonomian negara-negara di Belahan Bumi Utara. Peringatan tersebut disampaikan dalam pernyataan bersama Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), dan Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO).

"Perang di Timur Tengah menimbulkan dampak yang besar dan sangat asimetris terhadap pasokan energi, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonomi di berbagai negara dan wilayah," demikian bunyi pernyataan tersebut pada Jumat (29/5/2026) lalu.

Keempat lembaga tersebut menyebut negara-negara yang rentan menjadi pihak yang paling terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar dan pupuk. Namun, negara-negara di Belahan Bumi Utara juga tidak luput dari dampak apabila krisis di Selat Hormuz terus berlanjut.

"Persediaan minyak global sedang berkurang dengan kecepatan mencapai rekor sebagai respons terhadap hilangnya pasokan besar-besaran melalui Selat Hormuz," demikian isi pernyataan tersebut.

Mereka memperingatkan bahwa apabila arus pelayaran tidak kembali normal, penyusutan cepat cadangan minyak global menjelang puncak permintaan musim panas di Belahan Bumi Utara akan meningkatkan risiko terhadap keamanan pasokan bahan bakar, kondisi pasar, dan ketahanan ekonomi secara lebih luas.

Keempat lembaga itu berjanji terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan situasi dan menyelaraskan upaya dalam mendukung negara-negara yang paling terdampak serta menjaga stabilitas ekonomi global.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Washington dan Teheran kemudian mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 7 April.

Perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas. Sementara itu, Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. 

sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|