Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Inggris secara resmi membuka akses pangkalan militernya untuk digunakan Amerika Serikat (AS) dalam menyerang situs rudal Iran. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan keputusan itu diambil setelah menilai pendekatan Teheran makin "ceroboh" dan membahayakan warga Inggris di kawasan Timur Tengah.
Selama ini, Inggris tidak terlibat langsung dalam rangkaian serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran. Namun dalam pernyataan terekam pada Minggu (1/3/2026) malam, Starmer mengungkapkan bahwa Washington telah meminta izin menggunakan dua pangkalan militer Inggris untuk tujuan yang ia sebut sebagai pertahanan terbatas dan spesifik.
"Pendekatan Iran semakin gegabah dan membahayakan nyawa warga Inggris," kata Starmer, menjelaskan latar belakang keputusan tersebut, dikutip dari The Guardian.
Ia membeberkan bahwa sekitar 200.000 warga negara Inggris saat ini berada di negara-negara Timur Tengah yang menjadi target serangan Iran. "Satu-satunya cara untuk menghentikan ancaman tersebut adalah dengan menghancurkan rudal-rudal tersebut di sumbernya, baik di depot penyimpanan maupun di peluncur yang digunakan untuk menembakkan rudal-rudal tersebut," ujarnya.
"AS telah meminta izin untuk menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas tersebut.
"Kami telah mengambil keputusan untuk menerima permintaan ini, untuk mencegah Iran menembakkan rudal di seluruh wilayah... membunuh warga sipil yang tidak bersalah... membahayakan nyawa warga Inggris... dan mengenai negara-negara yang tidak terlibat," imbuhnya.
Starmer juga menyatakan jet-jet tempur Inggris sudah berada di udara sebagai bagian dari operasi pertahanan terkoordinasi dan telah "telah berhasil mencegat serangan Iran".
Pangkalan Akrotiri Diserang Drone
Beberapa jam setelah pernyataan Starmer, pangkalan udara RAF Akrotiri milik Inggris di Siprus dilaporkan menjadi sasaran serangan drone. Serangan itu disebut hanya menyebabkan "kerusakan minor" dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Peringatan keamanan yang diduga dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Inggris dikirim kepada personel militer dan keluarga mereka di Akrotiri pada Minggu malam, memperingatkan adanya ancaman keamanan yang sedang berlangsung.
Pakar pertahanan dan intelijen menggambarkan insiden tersebut sebagai "Kemungkinan serangan drone satu arah Iran terhadap RAF Akrotiri".
"Perlindungan pasukan kita di wilayah ini berada pada tingkat tertinggi dan pangkalan tersebut telah merespons untuk membela rakyat kita," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris.
Dalam ringkasan posisi hukumnya yang dirilis pemerintah, disebutkan bahwa "Inggris bertindak untuk membela diri secara kolektif bagi sekutu-sekutu regional yang telah meminta dukungan."
Sebelumnya pada Minggu, Inggris bersama Prancis dan Jerman juga mengeluarkan pernyataan bersama.
"Kami akan mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di kawasan ini, berpotensi melalui pengaktifan tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran menembakkan rudal dan drone ke sumbernya," kata pernyataan itu.
(luc/luc)
Addsource on Google

















































