REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Arus penanaman modal asing (PMA) ke Asia Tenggara meningkat pada 2025 di tengah perubahan rantai pasok global dan ketidakpastian geopolitik. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi sekaligus memperkuat posisi dalam rantai nilai industri kawasan.
Asia Tenggara mencatat arus PMA hampir 250 miliar dolar AS pada 2025, naik dari sekitar 225 miliar dolar AS pada 2024. Sementara itu, arus PMA ke Asia Timur mencapai sekitar 245 miliar dolar AS pada 2025.
Perubahan rantai pasok global, ekspansi manufaktur, dan meningkatnya minat investor terhadap pasar ASEAN menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan investasi di kawasan.
Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan, perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru.
“Perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan baru,” ujar Radhika, Kamis (10/9/2026).
Menurut dia, daya tarik Indonesia ke depan tidak hanya berasal dari sumber daya alam dan besarnya pasar domestik. Kemampuan menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi juga menjadi faktor penting.
Hal tersebut dibahas Bank DBS Indonesia dalam forum The Indonesia Equation: Risks, Returns and the Road to 2027 di Jakarta, Kamis (10/9/2026). Forum tersebut dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno, analis DBS Group Research, serta perwakilan perusahaan multinasional.
Selain prospek investasi, arah suku bunga Amerika Serikat dan kondisi pasar global diperkirakan turut memengaruhi arus modal, nilai tukar rupiah, serta biaya pendanaan Indonesia menuju 2027.
DBS Group Research melihat tren China+1 dan Taiwan+1 sebagai salah satu peluang bagi Indonesia. Perubahan strategi rantai pasok tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk memperluas peran sebagai basis manufaktur, termasuk dalam ekosistem kendaraan listrik.
Agenda hilirisasi juga dinilai dapat membuka peluang investasi pada sektor energi, infrastruktur, dan manufaktur strategis. Dengan sumber daya, pasar domestik, serta dukungan kebijakan, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan perannya dalam ekosistem teknologi, elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik di Asia.
Deputi Bidang Pengembangan Iklim dan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Riyatno mengatakan, realisasi investasi Indonesia masih menunjukkan perkembangan positif.
“Realisasi investasi di Indonesia tetap menunjukkan tren positif yang dibuktikan dengan capaian semester pertama 2026 hampir 50 persen dari target pertumbuhan 7,2 persen YoY,” kata Riyatno.
Dia mengatakan pemerintah terus memperbaiki iklim investasi melalui layanan investasi end-to-end, reformasi regulasi, peta jalan sektor investasi, serta penyederhanaan perizinan melalui OSS Versi 2.
Di tengah persaingan antarnegara untuk menarik investasi, perusahaan multinasional perlu menentukan strategi sesuai kondisi sektor dan tingkat risiko masing-masing. Pilihan tersebut dapat berupa memperluas bisnis (expand), memperdalam eksposur (deepen), atau meninjau kembali strategi (reassess).
Keputusan tersebut turut dipengaruhi kemampuan perusahaan mengelola pembiayaan, risiko, ketahanan bisnis, dan efisiensi operasional secara bersamaan. Dari sisi Indonesia, daya saing biaya, ketersediaan tenaga kerja, dan perkembangan ekosistem industri menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi keputusan investasi.
Kepastian regulasi, kecepatan perizinan, efisiensi operasional, stabilitas kebijakan ekonomi, dan nilai tukar juga menjadi perhatian perusahaan multinasional dalam menentukan ekspansi menuju 2027.
Head of Large & Multinational Corporates, Institutional Banking Group, Bank DBS Indonesia Natalia Ratulangi mengatakan, kebutuhan perusahaan multinasional kini tidak hanya terkait pembiayaan.
“Kebutuhan perusahaan multi-national semakin beragam, tidak hanya sekadar pembiayaan tapi juga kebutuhan untuk mengatasi dampak gejolak suku bunga, nilai tukar, kebijakan regulasi dan sentimen local ekonomi,” kata Natalia.
Menurut dia, perusahaan membutuhkan mitra perbankan yang mampu memberikan informasi mengenai perkembangan pasar sekaligus menyediakan solusi perbankan lintas kawasan.
Bank DBS Indonesia menyebut konektivitas jaringan DBS di Asia, platform perbankan digital, serta keahlian sektoral menjadi kapabilitas yang digunakan untuk mendukung kebutuhan perusahaan multinasional.
Peran tersebut mencakup pendanaan modal kerja, pembiayaan belanja modal (capex financing), sustainability-linked loan, produk perdagangan dan tresuri, manajemen kas, hingga layanan konsultasi strategis.
Bank DBS Indonesia juga menyatakan dukungan terhadap penguatan ekosistem investasi dan peningkatan investasi asing di Indonesia. Strategi tersebut diarahkan untuk mendukung perusahaan multinasional dalam mengembangkan bisnis di Indonesia sekaligus memanfaatkan konektivitas pasar Asia.

10 hours ago
6
















































