Investor Asing Belum Agresif Borong SBN, Ini Faktor Penghambatnya

2 hours ago 2

Investor Asing Belum Agresif Borong SBN, Ini Faktor Penghambatnya

Foto ilustrasi investasi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Investor asing mulai kembali menambah kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia setelah sempat mencatatkan aksi jual bersih pada pertengahan tahun. Namun, masuknya dana asing ke pasar surat utang nasional masih berlangsung secara terbatas karena berbagai faktor ketidakpastian, mulai dari pelemahan rupiah hingga arah kebijakan suku bunga global.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menunjukkan kepemilikan investor asing atas SBN meningkat menjadi Rp891,21 triliun, naik dari Rp879,93 triliun pada awal 2026. Meski demikian, peningkatan tersebut belum mencerminkan kembalinya arus modal asing secara besar-besaran.

Kepemilikan Asing Masih Relatif Rendah

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan investor asing memang telah kembali melakukan pembelian bersih SBN. Akan tetapi, volumenya masih terbatas jika dibandingkan dengan potensi pasar.

Menurut Josua, porsi kepemilikan investor asing saat ini hanya sekitar 13% dari total SBN yang dapat diperdagangkan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat investor global terhadap instrumen surat utang pemerintah Indonesia belum sepenuhnya pulih.

Ia juga menilai investor asing kini lebih memilih instrumen dengan tenor pendek dibandingkan obligasi pemerintah berjangka panjang.

Sepanjang 2026, investor asing tercatat hanya membeli obligasi sekitar US$0,84 miliar, sedangkan pembelian terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai US$9,72 miliar.

"Hal ini menunjukkan bahwa investor masih cenderung memilih instrumen BI yang lebih pendek, mudah dipindahkan, dan memberikan imbal hasil tinggi daripada mengunci dana pada SBN berjangka panjang," kata Josua, Senin (27/7/2026).

Rupiah hingga Yield AS Jadi Pertimbangan

Josua menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang membuat investor asing belum kembali masuk secara agresif ke pasar SBN Indonesia.

Beberapa di antaranya adalah pelemahan nilai tukar rupiah, tingginya imbal hasil aset Amerika Serikat, ketidakpastian arah suku bunga global, hingga besarnya kebutuhan penerbitan surat utang oleh pemerintah.

Menurutnya, selisih imbal hasil atau spread antara SBN Indonesia dan Treasury Amerika Serikat yang berada di kisaran 273 basis poin (bps) belum cukup menarik apabila investor masih memperkirakan rupiah berpotensi melemah. Selain itu, biaya lindung nilai (hedging) juga dinilai dapat mengurangi keuntungan dari selisih bunga tersebut.

"Agar arus asing meningkat secara berarti, rupiah perlu stabil selama beberapa pekan, komunikasi fiskal harus konsisten, penerbitan SBN perlu terukur, dan imbal hasil SBN tidak boleh ditekan terlalu cepat," katanya.

Net Buy Asing Dinilai Jadi Sinyal Positif

Sementara itu, Kepala Unit Riset & Informasi Pasar Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Salvian Fernando, menilai aksi beli bersih investor asing yang terjadi belakangan ini tetap menjadi indikator positif karena menunjukkan arah arus modal mulai berbalik ke pasar domestik.

Meski demikian, menurut Salvian, investor global masih menunggu kepastian bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia tetap terjaga sebelum meningkatkan investasinya di pasar obligasi pemerintah.

"Meskipun spread SBN sudah menarik, investor asing umumnya menunggu konfirmasi bahwa stabilitas makro Indonesia dapat dipertahankan secara konsisten, baik dari sisi inflasi, fiskal, maupun stabilitas nilai tukar," tegasnya.

Keputusan The Fed Jadi Penentu

Salvian menilai keputusan The Federal Reserve (The Fed) mengenai suku bunga pada pekan ini akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah arus modal asing ke Indonesia.

Apabila bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga dengan sinyal yang lebih dovish, maka selera risiko (risk appetite) investor berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat mendorong kembali masuknya dana asing ke pasar SBN Indonesia, memperkuat permintaan dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), sekaligus menopang pergerakan yield acuan SBN.

Namun, Salvian memandang peluang tersebut masih relatif kecil.

"Tapi kami melihat kemungkinan itu cukup rendah, The Fed sepertinya masih akan cenderung memberikan sinyal higher for longer sehingga asset dolar AS masih tetap lebih menarik," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|