Iran Sesungguhnya Menang Perang Lawan AS, Ini Buktinya

15 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu resmi diumumkan. Namun, di balik narasi deeskalasi yang digaungkan Washington, situasi di lapangan menunjukkan realitas yang jauh berbeda, di mana Negeri Paman Sam dianggap gagal memaksakan kehendaknya lewat kekuatan militer.

Langkah mendadak Donald Trump ini dinilai bukan sebagai tanda kemenangan. Melainkan manuver darurat untuk menghindari kerugian politik dan ekonomi yang lebih besar bagi AS sendiri.

Pandangan tajam ini disampaikan oleh Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan Dosen Tamu di Universitas HSE Moskow, Rusia, Murad Sadygzade. Menurutnya, apa yang terjadi saat ini bukanlah akhir dari konflik, melainkan sekadar "ruang bernapas" di tengah perang yang belum usai.

"Apa yang sebenarnya terjadi adalah interupsi paksa, yang dicapai di bawah tekanan dan dikelilingi oleh interpretasi yang tidak kompatibel antara Washington dan Teheran," ujar Sadygzade dalam analisisnya, dimuat RT, Kamis (9/4/2026).

Bagi banyak pengamat internasional, Iran justru muncul sebagai pemenang dalam pertempuran fase ini. Teheran dinilai mampu meredam gempuran, membalas dengan kekuatan dan martabat, serta menolak untuk menyerah.

"AS dan Israel berharap dapat menentukan aturan konflik dan kemudian menyajikan kemunduran Iran yang dipaksakan sebagai bukti kemenangan mereka sendiri. Apa yang terjadi dalam praktiknya justru sebaliknya," jelas Sadygzade.

Washington Mundur Teratur

Strategi AS yang mengandalkan tekanan maksimal dan retorika intimidasi disebut menemui jalan buntu. Sadygzade menilai Iran membuktikan bahwa sebuah negara besar dengan sistem politik yang tangguh tidak bisa dipatahkan hanya dengan satu siklus serangan, meski menimbulkan kerusakan besar.

"Donald Trump melakukan pembalikan mendadak pada jam-jam terakhir sebelum berakhirnya ultimatumnya sendiri. Hal ini tidak boleh dibaca sebagai gerakan percaya diri dari seorang pemenang, tetapi sebagai manuver terpaksa dari seorang pemimpin yang mendesak mencari jalan keluar dari konfigurasi yang semakin berbahaya," papar Sadygzade.

Sadygzade menambahkan bahwa sebelum gencatan senjata diumumkan, retorika AS telah meningkat menjadi ancaman terhadap infrastruktur sipil Iran. Pergeseran mendadak ke arah negosiasi menunjukkan bahwa tekanan militer mulai berbalik merugikan pihak Amerika sendiri.

"Melanjutkan perang mengancam Washington dengan berbagai lapisan biaya. Ketidakpastian militer tetap tinggi, sekutu merasa tidak nyaman, pasar bereaksi gugup, dan prospek konflik berkepanjangan tanpa hasil yang meyakinkan menjadi semakin nyata," tuturnya.

Kerugian Iran Malah Menguatkan 

Secara militer, AS dan Israel memang berhasil menghantam infrastruktur Iran secara signifikan. Namun, Sadygzade menegaskan bahwa perang tidak bisa diukur hanya dari jumlah target yang hancur, melainkan dari hasil politiknya.

"Tekanan eksternal pada skala ini hampir selalu menghasilkan efek ganda. Ini meningkatkan rasa takut, kelelahan, dan kemarahan, namun juga dapat memperkuat rasa komunitas sejarah secara tajam, terutama ketika masyarakat memandang peristiwa tersebut sebagai serangan terhadap negara itu sendiri," ungkap Sadygzade.

Menurut Sadygzade, serangan AS dan Israel justru menyatukan rakyat Iran di bawah logika kelangsungan hidup nasional. Ketidakpuasan internal terhadap pemerintah surut demi menghadapi agresi luar.

"Dalam hal itu, AS dan Israel mencapai kebalikan dari apa yang mereka maksudkan. Alih-alih melonggarkan ikatan internal masyarakat Iran, mereka berkontribusi untuk memperketatnya," tegas Sadygzade.

Ia juga menyoroti bagaimana Iran berhasil merebut inisiatif politik. Jika satu sisi memulai perang dengan harapan memaksa kapitulasi namun berakhir dengan mediasi, maka desain aslinya telah gagal.

Guncangan ke Seluruh Dunia

Konflik ini juga merusak citra AS sebagai pelindung keamanan di Timur Tengah. Negara-negara monarki Arab kini mulai meragukan "payung militer" Amerika karena setiap konfrontasi besar dengan Iran otomatis mengubah infrastruktur energi dan jalur pelayaran mereka menjadi zona risiko tinggi.

"Itulah sebabnya reaksi pasar Teluk terhadap gencatan senjata tampak hampir euforia dalam kelegaan mereka-relief besar bahwa kawasan tersebut, setidaknya untuk sementara, telah mundur dari tepi malapetaka," kata Sadygzade.

Bahkan sekutu Eropa pun tampak menjaga jarak. Sadygzade menilai AS gagal "menjual" proyek perang Iran ini kepada sekutu-sekutunya, yang lebih memilih diplomasi daripada mengikuti kampanye militer Washington.

"Selama beberapa dekade, AS berusaha mempresentasikan dirinya bukan hanya sebagai sumber ketertiban global. Namun dengan perang Iran dan konsekuensinya, kekuatan Amerika semakin dipandang sebagai produsen kekacauan," tambahnya.

Peluang Damai yang Tipis

Gencatan senjata saat ini dianggap hanya sebagai penghentian taktis, bukan penyelesaian strategis. Sadygzade mengungkapkan bahwa Iran telah mengajukan 10 poin rencana perdamaian melalui perantara Pakistan yang berisi syarat-syarat yang sebelumnya pernah ditolak AS.

"Washington ingin jeda ini dilihat sebagai buah dari kekuatan. Teheran ingin itu dilihat sebagai buah dari ketahanan dan perlawanan yang sukses. Inilah perjuangan utama dalam proses negosiasi," jelas Sadygzade.

Faktor Israel 

Sementara perhatian dunia tertuju pada perang melawan Iran, Israel dinilai berhasil memanipulasi ruang informasi untuk melanjutkan agenda militernya di Lebanon Selatan tanpa pengawasan ketat.

"Netanyahu sebagian besar berhasil menarik diri dari pusat perhatian kritis pada saat yang paling menguntungkan baginya. Jika jeda ini tidak meluas ke Lebanon, maka itu berarti perang belum benar-benar berakhir-itu hanya dikonfigurasi ulang secara parsial," kata Sadygzade.

Sebagai penutup, Sadygzade menekankan bahwa dunia kini melihat batas-batas kekuatan Amerika. Washington mungkin masih mampu memicu bencana regional, tetapi tidak lagi mampu mengubah eskalasi militer menjadi tatanan politik yang stabil dengan cepat.

"Dunia melihat bahwa Iran dapat terluka parah, namun sulit untuk dipatahkan. Itulah sebabnya jeda saat ini dirasakan bukan sebagai kemenangan kekuatan Amerika, tetapi sebagai bukti dari keterbatasannya," pungkas Sadygzade.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|