Iran Ultimatum AS: Pilih Gencatan Senjata atau Lanjut Perang Via Israel?

2 weeks ago 20

Asap mengepul setelah serangan udara Israel menargetkan pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, Lebanon 8 April 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diumumkan pada Rabu (8/4/2026) menjadi sangat rapuh menyusul aksi brutal Israel terhadap Lebanon pada hari yang sama. Iran pun memperingatkan AS untuk harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel dan tidak bisa keduanya.

"Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit, Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya," tulis Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi di platform X pada Rabu.

Araghchi menambahkan bahwa dunia melihat pembantaian di Lebanon. "Bola ada di tangan Amerika dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai komitmennya," katanya.

Mengutip sumber terpercaya, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Teheran akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus melanggarnya melalui serangan terhadap Lebanon.

Tentara Israel mengatakan mereka menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di berbagai wilayah di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dalam serangan terkoordinasi "terbesar" sejak dimulainya serangan terbaru di Lebanon. Jumlah korban tewas akibat serangan Israel sedikitnya dilaporkan 254, termasuk 92 di Beirut.

"Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan selatan," kata Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nassereddine kepada Al Jazeera.

sumber : Antara, Anadolu, Sputnik/RIA Novosti

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|