Jangan Senang Dulu Selat Hormuz Dibuka, Bahaya Tetap Mengintai!

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah telah memblokir sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.

Namun, para pakar pelayaran dan perdagangan memperingatkan bahwa pembukaan kembali jalur perairan tersebut tidak akan langsung menyelesaikan krisis, melainkan menyisakan masalah rantai pasok dan keamanan dalam jangka panjang.

Melansir dari Aljazeera, Senior Director Corporate Communications Hapag-Lloyd Nils Haupt mengungkapkan bahwa tantangan logistik yang sebenarnya baru akan dimulai setelah perang usai dan jalur kembali dibuka.

"Kita akan melihat ratusan kapal yang ingin bersandar di pelabuhan-pelabuhan utama di Teluk Persia. Banyak kontainer yang masuk ke wilayah tersebut, dan kita akan melihat gangguan rantai pasok dari dan menuju Teluk Persia," ujar Haupt, dilansir Aljazeera, dikutip Minggu (5/4/2026).

Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), saat ini terdapat sekitar 2.000 kapal yang tertahan di kawasan tersebut akibat blokade parsial oleh Iran. Managing Director Norwegian Shipowners' Mutual War Risks Association, Svein Ringbakken, menilai butuh waktu berbulan-bulan untuk mengurai penumpukan (backlog) minyak, gas, dan barang lainnya.

Ringbakken menambahkan proses pemulihan dipersulit oleh kerusakan pada lebih dari 40 aset energi dan infrastruktur pelabuhan di seluruh Timur Tengah, serta terhentinya lini produksi akibat minimnya kapasitas penyimpanan.

Selain masalah logistik, risiko keamanan dan finansial tetap membayangi industri pelayaran. Chairman Safesea, SV Anchan, menyoroti munculnya ancaman asimetris seperti serangan kapal tak berawak yang telah mengubah lingkungan risiko secara fundamental. IMO mencatat setidaknya ada 18 serangan terhadap kapal sejak perang dimulai.

"Bahkan jika dibuka kembali sepenuhnya, kembali ke kondisi normal akan membutuhkan periode stabilitas yang berkelanjutan. Pemilik kapal, penyewa, dan perusahaan asuransi akan mencari konsistensi, jaminan keamanan yang kredibel, dan kerangka risiko yang terstruktur," tegas Anchan.

Direktur Jenderal Chartered Institute of Export & International Trade, Marco Forgione, mengungkapkan bahwa krisis ini telah memicu lonjakan premi asuransi lambung dan kargo hingga 300%. Hal ini membebani perusahaan pelayaran yang tidak bisa terus-menerus menyerap kenaikan biaya tersebut.

CEO NSI Insurance Group, Oscar Seikaly juga menegaskan bahwa tarif asuransi baru bisa normal jika keamanan terjamin 100% dan permanen.

Ketidakpastian ini diyakini akan mengubah peta pelayaran global. Lead Analyst untuk Perdagangan Global di Economist Intelligence Unit (EIU), Nick Marro, memprediksi bahwa perusahaan akan melakukan diversifikasi rute perdagangan secara permanen untuk menghindari kawasan konflik.

"Seiring berjalannya waktu, lalu lintas melalui Selat Hormuz kemungkinan akan menurun karena risiko yang terkait dengan pemusatan perdagangan minyak di daerah yang sangat fluktuatif tersebut," pungkas Seikaly.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|