Kantong Warga RI Menipis, Emiten Ini Jadi Korban

7 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance (ADMF) melaporkan penyaluran pembiayaan turun 12% secara tahunan (yoy) sepanjang 2024, menjadi Rp 36,6 triliun. 

Presiden Direktur ADMF Dewa Made Susila mengatakan bahwa penurunan pembiayaan tersebut merupakan imbas dari penurunan daya beli masyarakat. Sebagaimana diketahui penjualan mobil anjok 13,9% yoy pada tahun lalu. 

Meski total pembiayaan baru Adira Finance menurun, namun Dewa mencatatkan pembiayaan non-otomotif tumbuh sebesar 10% yoy menjadi Rp9,8 triliun. Sebagian besar pembiayaan non-otomotif saat ini dikontribusi oleh pembiayaan multiguna melalui produk 'Solusi Dana.

Dengan demikian, piutang pembiayaan yang dikelola perusahaan (termasuk pembiayaan bersama) tercatat sebesar Rp56,0 triliun. Hal ini termasuk pembiayaan kendaraan listrik (EV), baik roda dua maupun roda empat yang mencatatkan penyaluran pembiayaan baru EV mencapai Rp379,6 miliar sepanjang 2024.

"Seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat serta menurunnya kapasitas pembayaran konsumen, dan dalam upaya menjaga kualitas aset, Perusahaan menerapkan strategi yang lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan selama tahun 2024," ungkap Dewa tertulis, Rabu, (26/2/2025).

Melansir laporan keuangan per 31 Desember 2025, ADMF mencatatkan total pendapatan sebesar Rp 9,99 triliun. Angka ini naik dari sebelumnya Rp9,5 triliun.

Meski demikian, ADMF tertekan total beban yang tercatat sebesar Rp8,23 triliun. Sehingga, laba tahun berjalan perusahaan pembiayaan ini turun 27,64% yoy dari Rp1,94 triliun menjadi Rp1,4 triliun di tahun 2024.

Di tengah penurunan daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor, Adira Finance melakukan ekspansi ke segmen non-otomotif yang mencakup pembiayaan multiguna, alat berat, dan lainnya. Pada bulan November 2024, Adira Finance meluncurkan produk pembiayaan multiguna yaitu "Solusi Dana" yang merupakan produk pembiayaan multiguna dengan jaminan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) kendaraan.

Dari segi segmentasinya, Pembiayaan konvensional masih mendominasi pembiayaan baru dengan kontribusi 75% dari pembiayaan baru, sementara pembiayaan syariah tercatat mewakili 21% dari total pembiayaan baru.

Sebelumnya, industri otomotif diketahui mengalami menghadapi tantangan di tahun 2024, khususnya di segmen kendaraan roda empat. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan ritel kendaraan roda empat baru turun secara signifikan sebesar 11% yoy menjadi 890 ribu unit.

Sementara itu, menurut data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan ritel kendaraan roda dua baru mengalami peningkatan sebesar 5% yoy yaitu menjadi 6,3 juta unit dari sebelumnya 6,0 juta unit di tahun 2023. Namun demikian, jumlah tersebut belum kembali ke kondisi sebelum pandemi Covid-19.


(mkh/mkh)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Pajak Opsen Kendaraan-PPN 12% , Multifinance Siap Hadapi 2025?

Next Article Otomotif RI Lesu, Emiten Ini Lirik Pasar Filipina

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|