
Ilustrasi perundungan./Pixabay-Wokandapix
Harianjogja.com, BANTUL—SMAN 2 Bantul akhirnya menyampaikan sikap resmi menyusul viralnya unggahan di media sosial yang memuat dugaan perundungan dan kekerasan psikologis terhadap seorang alumni sekolah tersebut. Dalam pernyataannya, pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf kepada penyintas dan keluarga, sekaligus menegaskan kesiapan untuk mengikuti proses investigasi maupun evaluasi apabila diperlukan.
Pernyataan resmi itu disampaikan melalui surat yang ditandatangani Kepala SMAN 2 Bantul, Isti Fatimah, pada Jumat (19/6/2026). Langkah tersebut diambil setelah unggahan terkait dugaan perundungan di lingkungan sekolah ramai diperbincangkan publik dan memunculkan beragam respons di media sosial.
Isti mengakui pihak sekolah memahami perhatian masyarakat yang muncul akibat beredarnya informasi tersebut. Karena itu, SMAN 2 Bantul menyampaikan permohonan maaf atas situasi yang berkembang dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi berbagai pihak.
"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada pihak penyintas, keluarga, serta masyarakat luas atas ketidaknyamanan dan situasi yang terjadi," ujarnya, dikutip Sabtu (20/6/2026).
Sekolah Siap Kooperatif Jika Ada Investigasi
Dalam pernyataan yang sama, SMAN 2 Bantul menegaskan komitmennya untuk bersikap terbuka dan kooperatif apabila terdapat proses investigasi ataupun evaluasi terkait dugaan perundungan yang menjadi sorotan publik tersebut.
Menurut Isti, sekolah tidak akan menghindari proses penelusuran apabila nantinya ada pihak yang melakukan pemeriksaan terhadap kasus tersebut. Bahkan, pihak sekolah menyatakan siap menerima konsekuensi apabila ditemukan pelanggaran yang melibatkan unsur internal sekolah.
"Kami siap bertanggung jawab atas kejadian ini. Apabila di kemudian hari terbukti adanya pelanggaran, penyalahgunaan wewenang maupun kelalaian yang dilakukan oleh oknum pengajar atau pihak sekolah, kami siap menerima sanksi serta konsekuensi sesuai aturan yang berlaku," katanya.
Jadi Bahan Evaluasi Lingkungan Belajar
Lebih lanjut, Isti menegaskan peristiwa yang kini menjadi perhatian publik tersebut akan dijadikan bahan evaluasi menyeluruh bagi sekolah. Evaluasi dilakukan untuk memastikan lingkungan pendidikan di SMAN 2 Bantul semakin aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Menurutnya, sekolah perlu menjadikan setiap masukan dan kritik sebagai bagian dari upaya perbaikan kualitas layanan pendidikan.
Selain melakukan evaluasi internal, pihak sekolah juga membuka ruang komunikasi kepada masyarakat, orang tua siswa, alumni, maupun pihak lain yang memiliki informasi, kritik, atau masukan terkait layanan pendidikan di SMAN 2 Bantul.
Sekolah berharap komunikasi melalui kanal resmi dapat membantu proses perbaikan yang sedang dilakukan sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik di masa mendatang.
"Dinamika ini akan kami jadikan momentum evaluasi dan memastikan lingkungan belajar di SMAN 2 Bantul ke depannya menjadi lebih baik lagi bagi seluruh peserta didik," ucapnya.
Bermula dari Unggahan Alumni di Threads
Kasus dugaan perundungan di SMAN 2 Bantul mencuat setelah seorang alumni mengunggah pengalaman yang diklaim dialaminya selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut melalui media sosial Threads. Unggahan itu kemudian menyebar luas dan memicu perhatian publik.
Dalam akun bernama @gh05tx0, alumni tersebut mengunggah foto rekam medis dan menceritakan tekanan psikologis yang disebut dialaminya selama bersekolah. Ia mengaku kondisi tersebut berdampak pada kesehatan mentalnya hingga akhirnya mendapatkan diagnosis gangguan mental setelah menyelesaikan pendidikan.
Hingga saat ini, polemik dugaan perundungan di SMAN 2 Bantul masih menjadi perhatian publik. Sementara pihak sekolah telah menyatakan kesediaan untuk bersikap terbuka terhadap setiap proses evaluasi maupun investigasi yang mungkin dilakukan guna memperoleh gambaran utuh mengenai peristiwa yang menjadi perbincangan luas tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































