
Seorang warga membakar dahan dan ranting kering di area pertanian di Kalurahan Bendung, Semin, Selasa (28/7/2026)/Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus kebakaran lahan di Gunungkidul mengalami kenaikan signifikan selama musim kemarau tahun ini. Hingga akhir Juli 2026, tercatat sudah terjadi 15 kasus kebakaran lahan di wilayah Bumi Handayani atau meningkat tajam dibandingkan tahun lalu yang hanya empat kasus.
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) BPBD Gunungkidul mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati karena kebakaran pada musim kemarau lebih sulit dipadamkan dan masih berpotensi terjadi hingga November mendatang.
Kepala UPT Damkarmat Gunungkidul, Handoko, mengatakan lokasi kebakaran terjadi di lahan tebu, hutan jati, hingga area pertanian. Meski demikian, pihaknya tidak merinci lokasi kejadian satu per satu.
“Harapannya tidak lagi bertambah kasusnya, tapi potensi ini tetap ada. Untuk lokasi kebakaran ada di lahan tebu, hutan jati hingga area pertanian,” kata Handoko saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, sebagian besar kebakaran lahan dipicu aktivitas masyarakat yang membakar sampah maupun ranting dan dahan yang mengering. Kondisi angin yang kencang saat musim kemarau menyebabkan api dengan cepat membesar dan menjalar ke area lain.
“Sudah ada yang lapor dan kami terjunkan personel untuk pemadaman,” katanya.
Handoko mengakui jumlah kasus kebakaran lahan dan hutan pada tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun lalu, kasus lebih sedikit karena dampak dari kemarau basah sehingga kejadian tidak sebanyak seperti di 2026,” katanya.
Ia mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas pembakaran sampah. Menurutnya, pembakaran harus diawasi agar api tidak menjalar ke lokasi lain.
“Embusan angin bisa memperbesar kobaran sehingga api menjalar kemana-mana. Jadi, jangan membakar secara sembarangan untuk mengurangi Risiko kebakaran lahan,” katanya.
Sementara itu, Kapolsek Semin, AKP Wasdiyanto, mengatakan di wilayahnya telah beberapa kali terjadi kebakaran lahan dan hutan. Meski demikian, lokasi kebakaran masih berada jauh dari permukiman warga.
Ia menilai dampak kebakaran lahan tidak hanya membahayakan masyarakat, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem lingkungan.
Menurut Wasdiyanto, kawasan perbukitan di wilayah tersebut merupakan habitat kawanan monyet ekor panjang. Jika habitatnya terganggu akibat kebakaran, satwa liar tersebut berpotensi berpindah ke area yang lebih aman, termasuk permukiman warga.
“Potensi bergesernya kawanan monyet ke area permukiman sangat mungkin, pada saat habitat aslinya sudah rusak. Kalau ini sampai terjadi, maka jadi pekerjaan baru yang harus diselesaikan agar konflik tidak meluas,” ungkapnya.
Ia menambahkan aktivitas pembakaran biasanya dilakukan untuk membuka lahan maupun membakar sampah yang berserakan di area lahan.
“Imbauan kami kepada warga, jangan membuka lahan dengan cara membakar karena sangat berbahaya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































