Keuangan Memburuk, Eramet Mau Jual Tambang Nikel Raksasa RI

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemegang saham terbesar Eramet telah mempekerjakan bankir dan mempertimbangkan penjualan sahamnya di grup pertambangan Prancis yang sedang bermasalah tersebut.

Mengutip laporan Financial Times, keluarga Duval telah menunjuk bank investasi Lazard untuk menjajaki opsi atas kepemilikan saham Eramet mereka sebesar 37%, dan untuk memberi nasihat kepada mereka menjelang penggalangan modal perusahaan yang akan segera dilakukan.

Pada bulan Februari, Eramet menguraikan rencana untuk mengumpulkan €500 juta tahun ini untuk menstabilkan "situasi keuangan yang memburuk". Sahamnya turun hampir seperlima sejak awal Januari, sehingga kapitalisasi pasarnya berkurang menjadi sekitar €1,4 miliar.

Dengan operasi yang mencakup penambangan nikel hingga bijih mangan, Eramet telah dilanda serangkaian kemunduran dalam beberapa bulan terakhir, termasuk penurunan harga dan kebakaran di fasilitas pasir mineralnya di Senegal.

Perusahaan tersebut mengalami kerugian hampir €500 juta pada tahun 2025 sementara utang bersih meningkat 50% menjadi hampir €2 miliar.

Perusahaan ini juga terlibat dalam krisis tata kelola. Dewan direksinya memecat kepala eksekutif Paulo Castellari pada bulan Februari, hanya delapan bulan setelah menjabat, dengan alasan perbedaan dalam "metode operasional."

Tak lama kemudian, Eramet menskors kepala keuangan Abel Martins-Alexandre. Sementara itu, Ketua dan mantan CEO Christel Bories telah diangkat kembali sementara ke posisi puncak.

Adapun keluarga Duval tersebut telah menjadi pemegang saham utama di Eramet sejak pengambilalihan Aubert & Duval oleh perusahaan pertambangan tersebut pada tahun 1999. Pada tahun 2022, Eramet menjual pembuat suku cadang jet tempur dan kapal selam tersebut kepada konsorsium yang didukung oleh Airbus dan pembuat mesin Safran.

Pemerintah Prancis adalah pemegang saham terbesar kedua Eramet, dengan kepemilikan 27%, dan bersama dengan keluarga Duval telah menyetujui secara prinsip penggalangan modal. Langkah ini, yang akan diajukan kepada pemegang saham pada akhir Mei, akan mengurangi kepemilikan keluarga jika mereka tidak memberikan lebih banyak uang tunai.

Menurut dua sumber, mereka mungkin kesulitan menemukan pembeli untuk saham tersebut. Hal ini mengingat bahwa pesaing industri mana pun mungkin lebih memilih untuk mengakuisisi perusahaan secara penuh.

Sebagai bagian dari rencana pemulihannya, Eramet mengatakan sedang menjajaki kemungkinan penjualan aset.

Meskipun masih menjabat sebagai kepala keuangan pada bulan Desember, Martins-Alexandre menguraikan rencana untuk menjual saham Eramet di salah satu tambang nikel terbesar di dunia, dan memperingatkan bahwa perusahaan membutuhkan "suntikan ekuitas segera". Hal ini berdasarkan memo internal.

Memo itu menuliskan tambang Weda Bay di Indonesia "harus menjadi kandidat yang jelas untuk dijual selagi kita memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses penjualan yang kredibel. Penjualan itu harus dilaksanakan dengan neraca Eramet yang "dibiarkan memburuk," kata memo tersebut, prioritas Martins-Alexandre untuk awal tahun 2026 termasuk mendapatkan "penawaran yang mengikat" untuk tambang tersebut.

Eramet menolak untuk berkomentar tentang potensi perubahan kepemilikan atau detail seputar tambang Weda Bay. Keluarga Duval juga menolak berkomentar.

Perusahaan tersebut mengatakan sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk berbagai aset sebagai bagian dari peninjauannya, tetapi tidak dapat memberikan rincian diskusi yang sedang berlangsung atau transaksi potensial tertentu.

Menurut beberapa sumber yang mengetahui situasi tersebut, krisis tata kelola di perusahaan tambang tersebut tampaknya merupakan bagian dari bentrokan budaya yang lebih luas. Mereka menambahkan bahwa tindakan yang diambil terhadap Castellari dan Martins-Alexandre oleh dewan direksi telah dikaitkan dengan keputusan mereka untuk menarik dana dari fasilitas kredit bergulir tanpa terlebih dahulu memberi tahu anggota dewan direksi dan pemegang saham. Hal itu telah menyebabkan ketegangan, meskipun para eksekutif tidak memiliki kewajiban untuk memberi tahu mereka sebelumnya.

Seperti yang dilaporkan Financial Times, Castellari telah menyampaikan kekhawatiran tentang tata kelola dan potensi salah urus keuangan ketika ia dipecat.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|