Harianjogja.com, BANTUL—Sang Surya Philharmonic Orchestra (SSPO) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menunjukkan kualitasnya melalui Concert Philharmonic #2 bertajuk Aventura en Armonía atau Petualangan dalam Harmoni. Digelar di Auditorium Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026) malam konser orkestra UMY tersebut menghadirkan pertunjukan musikal yang memadukan karya klasik, musik populer, hingga penampilan kolaboratif yang memukau ratusan penonton.
Sebagai satu-satunya orkestra mahasiswa di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia, SSPO UMY menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya menampilkan kemampuan musikal para pemainnya, tetapi juga menyampaikan pesan tentang perjalanan hidup, perjuangan, serta upaya menemukan harmoni di tengah keberagaman.
Tema Aventura en Armonía diwujudkan melalui rangkaian repertoar yang disusun menyerupai alur cerita. Setiap komposisi menggambarkan proses transformasi seseorang dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan hingga akhirnya menemukan keseimbangan dan keharmonisan dalam lingkungan sosialnya.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) UMY, Profesor Muhammad Faris Al-Fadhat mengapresiasi atas keberhasilan penyelenggaraan konser kedua tersebut. Menurutnya, pencapaian itu menjadi bukti dari kerja keras, dedikasi, dan konsistensi mahasiswa dalam mengembangkan seni orkestra di kampus yang tidak memiliki program studi musik.
“Tentu jerih payah dan kerja keras teman-teman telah terbayarkan sehingga melahirkan konser yang kedua ini,” ungkap Faris sebagaimana rilis diterbitkan UMY, Senin (15/6/2026).
SSPO UMY Buktikan Orkestra Bisa Berkembang Tanpa Jurusan Musik
Faris menjelaskan keberadaan SSPO memiliki nilai historis tersendiri dalam perjalanan organisasi kemahasiswaan UMY. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tersebut lahir pada 2019 dari gagasan untuk menghadirkan kelompok orkestra lengkap yang mampu menjadi wadah pengembangan seni musik bagi mahasiswa lintas disiplin ilmu.
“UKM ini sangat spesial karena setelah didirikan tahun 2019, kami punya mimpi bagaimana UMY bisa melahirkan sebuah UKM musik yang tidak saja musik biasa, tetapi betul-betul paket orkes lengkap. Dan ini merupakan UKM orkestra pertama di Perguruan Tinggi Muhammadiyah seluruh Indonesia,” jelasnya.
Perkembangan SSPO dinilai berlangsung sangat pesat. Pada masa awal pembentukan, pemain dari kalangan mahasiswa UMY hanya sekitar 25 hingga 30 persen, sementara sebagian besar personel berasal dari luar kampus. Namun, melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan dan pelatihan rutin, kini sekitar 90 persen pemain orkestra merupakan mahasiswa aktif UMY.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa minat dan kemampuan bermusik mahasiswa dapat berkembang secara signifikan meskipun mereka berasal dari program studi nonmusik.
Tak hanya menjadi ruang pengembangan bakat, SSPO juga telah memberikan kontribusi nyata bagi Muhammadiyah. Salah satunya melalui aransemen simfonik lagu mars Sang Surya yang kini digunakan dalam berbagai kegiatan resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“Musik Sang Surya itulah yang sampai sekarang digunakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah kalau setiap acara. Jadi warnanya sangat berbeda,” tuturnya.
Faris menambahkan, kehadiran SSPO juga memberikan warna baru dalam berbagai agenda besar Muhammadiyah, termasuk saat pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah. Untuk pertama kalinya, forum tertinggi Muhammadiyah tersebut diiringi oleh pertunjukan orkestra penuh yang melibatkan mahasiswa UMY.
Didorong Menjadi Agenda Budaya Tahunan UMY
Apresiasi terhadap perkembangan SSPO juga datang dari Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng. Menurutnya, konser kedua ini membuktikan bahwa SSPO mampu menjaga eksistensi dan produktivitasnya di tengah aktivitas akademik mahasiswa.
“Ini yang kedua kalinya kita mengadakan forum yang agak besar. Tahun kemarin di Gedung Budaya dan sekarang kembali terselenggara dengan baik. Atas nama Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kami memberikan apresiasi yang luar biasa,” ujar Prof. Gunawan.
Ia menilai konsistensi tersebut perlu terus dipertahankan melalui dukungan pembina dan pengurus organisasi. Karena itu, konser orkestra UMY didorong untuk menjadi agenda budaya tahunan yang terselenggara secara berkelanjutan.
Selain itu, Prof. Gunawan juga mengusulkan agar penyelenggaraan konser berikutnya melibatkan lebih banyak kolaborasi dengan unit kegiatan mahasiswa lain, seperti teater, tari, maupun seni visual dan sinematografi.
“Saya pikir memang ini event tahunan. Event tahunan yang bukan cuma sekadar diadakan kalau sempat, tapi memang harus selalu diadakan setiap tahun. Entah bentuknya seperti apa, apakah juga kolaboratif dengan UKM yang lainnya, saya pikir perlu kita coba,” tambahnya.
Kolaborasi Musik Klasik dan Populer Meriahkan Panggung SMM
Pada konser kali ini, SSPO menghadirkan beragam repertoar yang memadukan musik klasik dan kontemporer dalam satu panggung. Penonton disuguhkan karya-karya seperti Arioso karya J.S. Bach, Lascia Ch’io Pianga, dan Dance of The Sugar Plum Fairy, yang berpadu dengan lagu-lagu populer seperti Something Just Like This, Show Yourself, Gala Bunga Matahari, hingga He’s a Pirate.
Pertunjukan semakin menarik melalui penampilan solo instrumen, format kuartet, permainan perkusi yang presisi, serta sajian full orchestra bersama vokalis tamu. Ragam penampilan tersebut menjadi bukti perkembangan kualitas musikal SSPO sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa UMY dalam menghadirkan pertunjukan seni yang mampu menjangkau berbagai kalangan penonton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































