Lahan Bekas Hutan di Kulonprogo Disulap, Panen Jagung Tembus 8,3 Ton

5 hours ago 4

Lahan Bekas Hutan di Kulonprogo Disulap, Panen Jagung Tembus 8,3 Ton

Ilustrasi panen jagung - Harian Jogja/ Ujang Hasanudin

Harianjogja.com, KULONPROGO — Upaya petani di dataran tinggi Dusun Banyunganti, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kulonprogo, dalam mengubah lahan bekas hutan menjadi area pertanian produktif membuahkan hasil menggembirakan. Meski menghadapi berbagai tantangan, panen jagung perdana di wilayah tersebut mampu melampaui rata-rata produksi daerah.

Ketua Kelompok Tani Mudotomo yang juga Dukuh Banyunganti, Sutarman, mengungkapkan bahwa lahan seluas sekitar 7.000 meter persegi itu sebelumnya merupakan hutan belantara yang terbengkalai selama puluhan tahun. Untuk mengoptimalkan lahan, para petani menerapkan sistem tumpang sari.

“Karena kondisi tanahnya bekas hutan, kami menanam jagung dengan selingan singkong dan ubi jalar agar lebih produktif,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).

Namun, dalam proses pengelolaannya, para petani tidak lepas dari kendala. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sarana pengairan saat musim kemarau. Selain itu, kebutuhan alat pertanian seperti kultivator juga menjadi perhatian untuk mempercepat pengolahan lahan.

Gangguan hama, khususnya monyet ekor panjang, turut menjadi ancaman serius bagi tanaman yang dibudidayakan. Serangan hama ini kerap merusak tanaman dan mengurangi hasil panen.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo, Trenggono Trimulyo, menyatakan pihaknya akan segera menindaklanjuti keluhan petani. Koordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) akan dilakukan untuk mengatasi persoalan hama.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong kelompok tani untuk mengajukan proposal bantuan sarana dan prasarana pertanian agar dapat difasilitasi melalui berbagai sumber pendanaan, baik APBD, DAK, maupun APBN.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, hasil panen jagung perdana justru menunjukkan capaian yang menggembirakan. Berdasarkan hasil ubinan, produksi jagung di Banyunganti mencapai 8,33 ton per hektare.

Angka tersebut melampaui rata-rata produksi jagung di tingkat kabupaten yang berada di kisaran 6,5 ton per hektare, bahkan lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi DIY yang mencapai 5,7 ton per hektare.

Menurut Trenggono, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa potensi pertanian di wilayah dataran tinggi masih sangat besar untuk dikembangkan. Ia menilai semangat petani dalam mengelola lahan menjadi faktor utama keberhasilan tersebut.

“Ini menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan pangan di Kulonprogo, sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan halangan untuk menghasilkan panen berkualitas,” katanya.

Keberhasilan petani Banyunganti diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengoptimalkan lahan yang belum produktif, sekaligus memperkuat upaya swasembada pangan di daerah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|