Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mobil murah ramah lingkungan (LCGC) sudah tembus Rp200 juta. Salah satu yang jadi sorotan adalah Honda Brio Satya E CVT yang kini sudah berada di angka Rp206,7 juta. Pertanyaannya, sampai kapan harga ini bisa ditahan agar tidak semakin tinggi?
Sales & Marketing and After Sales Director Honda Prospect Motor Yusak Billy menegaskan, perusahaan tetap berupaya menjaga keseimbangan antara harga dan nilai yang diterima konsumen.
"Pastinya kita memberikan nilai lebih ya ke konsumen. Jadi ya harganya berapa ya nanti kita diskusikan internal di sini sih. Yang pasti kita harus melihat konsumen maunya seperti apa sih, value-nya apa sih. Jadi kita pelajari benar-benar supaya konsumen tidak kecewa sih," ujar Billy di kantor HPM Sunter, Senin (30/3/2026).
Di tengah tekanan biaya dan dinamika pasar, Honda mengakui keputusan harga tidak bisa dilakukan secara sepihak. Ada faktor regulasi yang turut memengaruhi, terutama untuk segmen LCGC yang memiliki aturan khusus dari pemerintah.
Dengan skema tersebut, ruang gerak produsen untuk menahan harga tetap berada dalam koridor kebijakan pemerintah. Artinya, meski tekanan biaya produksi terus meningkat, keputusan akhir tetap melalui mekanisme persetujuan.
"Iya, iya. Karena Brio Satya itu harganya itu diatur oleh pemerintah ya, kita propose sesuatu seperti itu. Jadi semuanya itu berdasarkan approval," lanjutnya.
Saat pertama kali meluncur di Indonesia pada 2013, Brio Satya hadir sebagai salah satu tulang punggung program LCGC dengan banderol yang jauh lebih terjangkau, yakni masih di kisaran Rp 100 jutaan. Posisi itu membuatnya cepat diterima pasar sebagai mobil entry-level yang menyasar pembeli pertama.
Seiring waktu, berbagai penyesuaian terjadi, mulai dari peningkatan fitur, standar keselamatan, hingga tekanan biaya produksi dan nilai tukar. Harga pun perlahan merangkak naik hingga kini mendekati dua kali lipat dari banderol awalnya.
(dce)
Addsource on Google















































