Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah kapal tanker terkena "ledakan besar" di perairan lepas pantai Kuwait. Hal ini menyebabkan tumpahan minyak di wilayah tersebut.
Peristiwa ini terjadi saat perang masih berkecamuk di Timur Tengah, usai serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran, Sabtu, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei. Militer Iran, Pasukan Garda Revolusi (IRGC) kemudian melakukan serangan balasan, termasuk menutup Selat Hormuz yang penting bagi pelayaran minyak dan gas dunia.
Mengutip AFP, Garda Revolusioner elit Iran mengatakan mereka memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz, titik penting menuju Teluk dan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia untuk energi. Setiap kapal yang nekad melintas akan ditembak.
"Kapten sebuah kapal tanker yang berlabuh, melaporkan menyaksikan dan mendengar ledakan besar di sisi kiri kemudian melihat sebuah kapal kecil meninggalkan daerah tersebut di lepas pantai wilayah Mubarak Al-Kabeer di negara Teluk tersebut," ujar badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, Kamis (5/3/2026) di X.
"Ada minyak di air yang berasal dari tangki kargo yang dapat berdampak pada lingkungan," tambahnya.
Kementerian Dalam Negeri Kuwait mengatakan ledakan itu terjadi di luar perairan teritorial Kuwait, setidaknya 60 kilometer (37 mil) dari Pelabuhan Mubarak Al-Kabeer. Setelah pemberitaan ini, raksasa pelayaran China, Cosco, yang mengoperasikan salah satu armada kapal tanker minyak terbesar di dunia, mengumumkan akan menangguhkan layanan ke dan dari negara-negara Teluk mulai Rabu, termasuk Kuwait.
(sef/sef)
Addsource on Google


















































