Lomba Mewarnai Wayang Jadi Cara Disbud DIY Kenalkan Warisan Budaya kepada Anak

2 hours ago 3

Lomba Mewarnai Wayang Jadi Cara Disbud DIY Kenalkan Warisan Budaya kepada Anak

Puluhan anak menggambar dan mewarnai wayang dalam Lomba Mewarnai dan Menggambar Wayang di Omah Wayang, Rabu (26/8/2026)./ Istimewa

JOGJA — Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menjadikan lomba menggambar dan mewarnai wayang sebagai salah satu cara mengenalkan warisan budaya takbenda kepada anak-anak. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bulan Warisan Dunia yang digelar pada Juni hingga September 2026.

Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Takbenda Dinas Kebudayaan DIY, Joy Jatmiko Abdi, mengatakan kegiatan yang menyasar anak-anak tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya regenerasi pelestari warisan budaya takbenda.

“Segmen kita untuk anak-anak sebagai nantinya pelestari dan kami harapkan juga sebagai regenerasi pelaku untuk meneruskan Intangible Cultural Heritage (ICH) ini supaya tetap lestari dan berjalan,” kata Joy saat ditemui di Omah Wayang, Rabu (26/8/2026).

Menurut Joy, kegiatan tersebut juga menjadi tindak lanjut setelah sejumlah warisan budaya Indonesia ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pemda DIY memiliki kewajiban melakukan laporan periodik terkait upaya pelestarian warisan budaya tersebut sehingga diperlukan berbagai kegiatan untuk mendukung pemeliharaan dan pengembangannya.

Bulan Warisan Dunia tahun ini diisi dengan sejumlah kegiatan yang mengangkat warisan budaya Indonesia yang telah ditetapkan UNESCO, seperti wayang, keris, pencak silat, jamu, kebaya, dan batik.

Rangkaian kegiatan tersebut antara lain pertunjukan musik dan orkestra bertema wayang, Jogja Festival, Festival Gamelan Anak, pameran keris, lokakarya, hingga sarasehan.

“Ini kita membuat rangkaian acara dalam satu minggu. Hari ini di Omah Wayang ada lomba menggambar dan mewarnai untuk anak, kemudian keris ada pameran keris, workshop, dan sarasehan,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sarasehan internasional pencak silat di UGM, lomba menggambar dan mewarnai, serta tari koreografi pencak silat. Pada Jumat, sejumlah kegiatan lomba dan penjurian juga dijadwalkan berlangsung.

Puncak rangkaian kegiatan dijadwalkan pada Sabtu (29/8/2026). Kegiatan akan diisi dengan Sinau, lokakarya dan sarasehan warisan budaya takbenda, penampilan lomba maulud jawi dan jatilan, hingga penyerahan sertifikat Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Gubernur DIY kepada bupati dan wali kota se-DIY.

Pada malam harinya, rangkaian acara ditutup dengan pentas wayang dan penampilan koreografi pencak silat dari berbagai daerah serta mahasiswa asing yang sebelumnya mengikuti pelatihan mengenai warisan budaya DIY.

Joy menekankan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan mencetak seniman atau pelaku seni. Regenerasi penonton juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem budaya.

“Kita tidak hanya mencetak senimannya saja, tidak hanya mencetak pelakunya, tapi kita juga perlu mencetak penontonnya. Karena akan menjadi hal yang absurd jika penampilnya atau senimannya atau pelakunya itu banyak tapi enggak ada yang nonton,” katanya.

Ia berharap pengenalan budaya sejak usia dini dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap wayang dan warisan budaya lainnya. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya berpotensi menjadi pelaku seni, tetapi juga menjadi penonton yang turut menjaga agar kesenian tetap hidup.

Salah satu orang tua peserta, Ratna, warga Sleman, mengatakan dirinya sengaja mengikutkan putranya, Atthar, yang masih duduk di kelas 1 SD, dalam lomba mewarnai wayang untuk mengenalkan budaya sejak dini.

“Untuk memperkenalkan budaya. Karena anak zaman sekarang itu jarang sekali tahu wayang. Kayak anak saya itu, wayang itu apa sih? Ternyata ada pakem-pakemnya, yang mewarnai itu harus warna ini, warna itu, tidak ngawur,” ujarnya.

Menurut Ratna, Atthar memang gemar menggambar dan mewarnai. Dalam sepekan, anaknya bisa beberapa kali menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas tersebut.

Meski jarang mengikuti perlombaan, kesempatan mengikuti lomba mewarnai wayang dinilai tepat untuk mengarahkan kegemaran anak sekaligus memperkenalkan budaya.

Ratna berharap pengalaman tersebut dapat membantu menggali potensi anak, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya.

“Harapannya yang pertama untuk menggali potensi diri dia. Terus yang kedua mengenalkan budaya. Jangan sampai budaya itu hilang. Yang ketiga untuk melatih kepercayaan diri,” katanya.

Hasil karya peserta dinilai oleh dewan juri dari Seniman Dalang Pepadi yang terdiri dari Eko Purnomo, Gondo Suharno, dan Utoro Widayanto.

Pemenang lomba menggambar dan mewarnai masing-masing mendapatkan piagam, piala, dan uang pembinaan. Juara pertama memperoleh Rp500.000, juara kedua Rp400.000, juara ketiga Rp300.000, serta lima juara harapan masing-masing mendapatkan Rp200.000. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|