Ilustrasi Imlek. - Foto dibuat oleh AI - StokCake
Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena Chunyun di Tiongkok kembali menyita perhatian global sebagai migrasi manusia terbesar dunia menjelang Tahun Baru Imlek, melibatkan ratusan juta orang selama sekitar 40 hari.
Tradisi mudik massal ini membuat stasiun, bandara, dan pelabuhan di berbagai kota di Tiongkok dipadati pemudik yang pulang ke kampung halaman untuk merayakan Festival Musim Semi bersama keluarga.
Disarikan dari berbagai sumber, secara budaya, Chunyun bukan sekadar pergerakan fisik, tetapi manifestasi kuat nilai reuni keluarga dalam masyarakat Tionghoa. Makan malam bersama pada malam Tahun Baru menjadi simbol penghormatan kepada orang tua sekaligus momen mengenang leluhur.
Seusai gelombang urbanisasi besar-besaran melahirkan lebih dari 270 juta buruh migran di kota-kota industri, Imlek menjadi kesempatan utama untuk pulang dan berkumpul. Kepadatan ekstrem di simpul transportasi dipicu kebijakan libur nasional serentak, sehingga mahasiswa, pekerja, hingga buruh pabrik melakukan perjalanan dalam waktu hampir bersamaan.
Periode Chunyun berlangsung sekitar 40 hari. Dalam rentang tersebut, miliaran perjalanan tercatat setiap tahunnya, menjadikannya mobilisasi tahunan paling kolosal di dunia. Seusai teknologi transportasi Tiongkok berkembang pesat, perjalanan yang dahulu memakan waktu berhari-hari kini dapat ditempuh dalam hitungan jam berkat jaringan kereta cepat berkecepatan hingga 350 kilometer per jam.
Meski infrastruktur modern terus diperluas, lonjakan volume penumpang membuat kepadatan tetap sulit dihindari. Dorongan emosional untuk berkumpul bersama keluarga menjadi faktor utama yang tidak tergantikan oleh kecanggihan teknologi.
Jika dibandingkan dengan tradisi mudik Lebaran di Indonesia, Chunyun memiliki skala dan durasi yang jauh lebih panjang. Namun, keduanya memiliki kesamaan nilai, yakni ikatan keluarga sebagai fondasi budaya yang kuat.
Fenomena Chunyun menunjukkan bagaimana modernisasi dan tradisi berjalan berdampingan di Tiongkok. Seusai perayaan Imlek berakhir, arus balik akan kembali menjadi tantangan besar bagi sistem transportasi nasional sebelum aktivitas ekonomi di kota-kota besar kembali normal. Di balik skala pergerakan yang masif, nilai universal tentang cinta keluarga tetap menjadi inti dari migrasi terbesar dunia ini.
| Aspek Perbandingan | Chunyun (Tiongkok) | Mudik Lebaran (Indonesia) |
| Durasi Periode | ±40 Hari. | 1 - 2 Minggu. |
| Skala Mobilisasi | 3 Miliar+ Perjalanan. | 100 Juta+ Orang. |
| Puncak Arus | Malam Tahun Baru Imlek. | H-3 hingga H+1 Lebaran. |
| Moda Utama | Kereta Cepat (Dominan). | Motor, Mobil, Bus, & Pesawat. |
| Kecepatan Transportasi | 350 Km/Jam (Kereta Super Cepat). | Variatif (Dominasi Jalur Darat). |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

















































