Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Iran disebut sebagai langkah antisipatif setelah Washington meyakini Israel tetap akan menyerang Teheran dan bahwa pasukan Amerika pasti menjadi target balasan. Penjelasan terbaru ini disampaikan Menteri Luar Negeri Marco Rubio di tengah perdebatan sengit di Kongres mengenai alasan dan tujuan perang.
Rubio berbicara kepada wartawan di Capitol usai memberikan pengarahan tertutup bersama Direktur CIA John Ratcliffe dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine. Pertemuan itu merupakan pengarahan pertama pemerintahan Presiden Donald Trump kepada anggota parlemen sejak perintah kampanye udara dikeluarkan akhir pekan lalu.
Rubio menegaskan bahwa risiko balasan Iran sudah diperkirakan sejak awal. "Sudah sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapapun, Amerika Serikat atau Israel atau siapapun, mereka akan merespons, dan merespons terhadap Amerika Serikat," ujarnya, dilansir The Guardian, Selasa (3/3/2026).
"Kami tahu akan ada aksi dari Israel. Kami tahu itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu bahwa jika kami tidak menyerang mereka lebih dulu sebelum mereka meluncurkan serangan tersebut, kami akan menderita korban yang lebih besar," kata Rubio.
Tujuan Operasi Militer
Wakil Presiden JD Vance dalam wawancara dengan Fox News pada Senin malam menekankan bahwa tujuan utama Amerika Serikat adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
"Presiden ingin menjelaskan kepada Iran dan kepada dunia bahwa ia tidak akan berhenti sampai ia mencapai tujuan yang sangat penting itu, yaitu memastikan bahwa Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir," kata Vance.
Vance selama ini dikenal sebagai anggota kabinet Trump yang paling skeptis terhadap intervensi militer, dan lebih jarang berbicara mengenai aksi AS di Iran dibandingkan Rubio.
Sejak konflik dimulai, AS dan Israel telah melancarkan gelombang serangan udara di berbagai wilayah Iran. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal ke negara-negara sekutu AS di Timur Tengah.
Kampanye udara tersebut menewaskan sejumlah pemimpin militer dan politik tertinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Militer AS mengakui enam personelnya tewas, sementara Bulan Sabit Merah Iran menyatakan lebih dari 500 orang meninggal di dalam negeri akibat serangan.
Iran sendiri membantah tengah mengembangkan senjata nuklir.
Perdebatan di Kongres
Penjelasan pemerintahan Presiden Donald Trump memicu reaksi berbeda di Kongres, terbelah di sepanjang garis partai. Partai Republik membela langkah presiden, sementara Demokrat menilainya sebagai konflik yang tidak perlu dan tanpa strategi yang jelas.
Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, sebelum mengikuti briefing menyatakan ini adalah perang Trump. "Ini adalah perang pilihan. Dia tidak punya strategi, dia tidak punya tujuan akhir."
Setelah keluar dari ruang pengarahan, Schumer mengatakan para anggota parlemen mengajukan "banyak sekali pertanyaan", namun menurutnya jawaban para pejabat pemerintah "sepenuhnya dan sama sekali tidak memadai. Bahkan bagi saya, briefing itu justru menimbulkan jauh lebih banyak pertanyaan daripada jawaban."
Wakil Ketua Komite Intelijen Senat dari Partai Demokrat, Mark Warner, mengaku khawatir dengan implikasi ketika AS pada dasarnya terseret ke perang baru akibat dinamika dengan Israel.
"Tidak ada ancaman yang segera terhadap Amerika Serikat dari pihak Iran. Ada ancaman terhadap Israel. Jika kita menyamakan ancaman terhadap Israel sebagai ancaman langsung terhadap Amerika Serikat, maka kita berada di wilayah yang belum pernah kita jelajahi," kata Warner.
Dalam wawancara dengan Fox News, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Iran sedang membangun lokasi bawah tanah baru "yang dalam hitungan bulan akan membuat program rudal balistik dan program bom atom mereka kebal."
"Jika tidak ada tindakan yang diambil sekarang, maka tidak akan ada tindakan yang bisa diambil di masa depan," ujarnya.
Dalam berbagai wawancara sebelumnya, Trump menyebut sejumlah tujuan perang, yakni menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran dan angkatan lautnya, mencegah pengembangan senjata nuklir, serta memutus dukungan Teheran terhadap pasukan proksi di Timur Tengah.
Namun kepada wartawan, Rubio hanya menyebut dua sasaran, yakni menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran dan angkatan lautnya.
Setelah pengarahan rahasia, Warner mengaku belum jelas apa sebenarnya tujuan akhir Trump.
"Saya pikir presiden perlu datang ke hadapan Kongres, dan bahkan kepada rakyat Amerika, lalu memutuskan dari empat atau lima tujuan yang telah disebutkan itu, mana yang sebenarnya menjadi tujuan utama?" ujarnya.
"Apa objektifnya? Apa rencana keluarnya? Kewajiban apa yang kita miliki sekarang terhadap rakyat Iran jika mereka benar-benar bangkit, berdasarkan seruan presiden agar mereka turun ke jalan? Dan apa ancaman mendesak terhadap kepentingan Amerika Serikat yang menyebabkan konflik ini?"
Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, membela langkah presiden dan menyebutnya sebagai "operasi defensif".
"Israel bertekad untuk bertindak membela diri mereka sendiri, dengan atau tanpa dukungan Amerika. Mengapa? Karena Israel menghadapi apa yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial," ujarnya.
Meski mengatakan tujuan perang bukan "untuk masuk dan menggulingkan rezim", Johnson tetap menyambut kematian ayatollah.
"Itu terjadi dan menurut penilaian saya, itu adalah perkembangan yang sangat baik bagi orang-orang yang mencintai kebebasan di seluruh dunia," katanya.
Johnson juga menyatakan optimisme bahwa resolusi kewenangan perang yang akan dipertimbangkan DPR pekan ini tidak akan lolos.
"Gagasan bahwa kita akan mencabut kemampuan panglima tertinggi kita, presiden, dan mengambil kewenangannya saat ini untuk menyelesaikan tugas ini, bagi saya adalah prospek yang menakutkan. Itu berbahaya," ujarnya. "Saya tentu berharap dan saya yakin kami memiliki suara yang cukup untuk menggagalkannya."
Adapun Trump memerintahkan serangan terhadap Iran tanpa terlebih dahulu meminta izin Kongres, meski Rubio mengatakan kelompok pimpinan bipartisan yang dikenal sebagai "Gang of Eight" telah diberi tahu sebelum serangan dimulai.
(luc/luc)
Addsource on Google

















































