Minyak Tembus US$100/barel, ESDM: Belum Ada Rencana Naikkan Harga BBM

5 hours ago 2

Indramayu, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merespons lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus US$100 per barel. Terutama setelah sebelumnya sempat turun ke level sekitar US$86 per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaiman mengatakan pemerintah saat ini masih terus memantau dinamika pergerakan harga minyak global yang dinilai sangat fluktuatif.

Menurutnya, harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan cukup tinggi, namun kemudian kembali mengalami penurunan setelah muncul pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Kalau kita perhatikan kan kemarin sempat tinggi, lalu ada pembicaraan antara Trump dan Putin menyebabkan turun lagi. Jadi dinamika ini masih menjadi perhatian kita, tapi yang paling penting dari pemerintah adalah sampai dengan saat ini belum ada rencana untuk menaikkan harga," kata Laode ditemui di Kawasan Kilang Balongan, dikutip Jumat (13/3/2026).

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat untuk tidak melakukan panic buying bahan bakar minyak (BBM) di tengah ketidakpastian global akibat konflik yang terjadi di timur tengah.

Menurut dia, pemerintah memastikan pasokan energi tetap aman dan harga BBM maupun LPG tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idulfitri.

"Saya mohon kepada saudara-saudara saya tidak perlu panic buying. Insya Allah BBM kita LPG kita negara akan hadir," kata Bahlil dalam acara Podcast, dikutip Rabu (11/3/2026).

Di samping itu, Bahlil membeberkan bahwa pemerintah telah membahas kondisi energi nasional dalam rapat terbatas bersama Presiden. Dalam rapat tersebut diputuskan tidak ada kenaikan harga BBM dalam waktu dekat.

"Dan satu lagi saya kemarin baru rapat dengan Presiden di Ratas, tidak ada kenaikan BBM sampai hari raya idul fitri selesai," ujarnya.

Bahlil mengatakan pemerintah akan hadir dengan menambah anggaran subsidi agar tidak terjadi kenaikan harga. Mengingat, di dalam APBN, asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dipatok sebesar US$70 per barel, sementara saat ini harga minyak telah mencapai sekitar US$100 per barel.

"Sekarang kan di APBN kita kan ICP US$ 70 per barel sekarang sudah tembus US$ 100 per barel, kenaikan itu kita masih mampu membiayai jadi masih ditanggung oleh negara," ujar Bahlil.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|