Mobil Listrik vs Bensin, Ini Hitungan Biaya Jangka Panjang

4 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Mobil listrik dan mobil bensin menawarkan karakter yang berbeda bagi konsumen Indonesia. Jika mobil listrik unggul dalam efisiensi energi dan jumlah komponen mekanis yang lebih sedikit, mobil bensin masih memiliki kelebihan dari sisi kemudahan pengisian bahan bakar, jaringan bengkel, dan pengalaman penggunaan yang sudah matang.

Perbedaan tersebut menjadi semakin penting ketika kendaraan direncanakan untuk dipakai dalam jangka panjang.

Bagi konsumen yang mempertimbangkan kepemilikan hingga 10 tahun, harga beli seharusnya bukan satu-satunya pertimbangan. Total biaya penggunaan atau total cost of ownership perlu diperhitungkan sejak awal.

Biaya Energi Jadi Pembeda Utama

Salah satu alasan mobil listrik dianggap lebih ekonomis adalah biaya energinya.

Motor listrik mampu mengubah energi listrik menjadi gerakan dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Karena itu, biaya untuk menempuh jarak tertentu umumnya lebih rendah dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal.

Sebagai gambaran, kebutuhan energi mobil listrik untuk perjalanan 300–400 km dapat menghasilkan biaya pengisian yang lebih rendah dibandingkan biaya BBM untuk jarak yang sama. Besarnya pengeluaran tersebut sangat bergantung pada konsumsi kendaraan, tarif listrik, lokasi pengisian, serta apakah pemilik mengisi daya di rumah atau menggunakan SPKLU.

Sementara itu, mobil bensin membutuhkan bahan bakar secara berkala dan pengeluarannya akan semakin terasa bagi pemilik dengan jarak tempuh tinggi.

Artinya, semakin sering mobil digunakan, semakin besar pula pengaruh biaya energi terhadap total pengeluaran selama masa kepemilikan.

Karena itu, keunggulan mobil listrik biasanya lebih terasa bagi konsumen yang memiliki mobilitas tinggi.

Perawatan Mobil Listrik Lebih Sederhana

Perbedaan berikutnya terdapat pada konstruksi kendaraan.

Mobil bensin menggunakan mesin pembakaran dengan berbagai komponen mekanis yang bekerja secara terus-menerus. Ada oli mesin, busi, filter, sistem pembakaran, sistem pembuangan, serta berbagai komponen lain yang membutuhkan pemeriksaan dan penggantian secara berkala.

Mobil listrik memiliki sistem penggerak yang lebih sederhana. Motor listrik tidak membutuhkan oli mesin seperti kendaraan konvensional dan jumlah komponen bergeraknya juga lebih sedikit.

Namun, bukan berarti mobil listrik bebas biaya perawatan.

Pemilik tetap harus memperhatikan ban, sistem pengereman, suspensi, pendingin, filter kabin, serta berbagai komponen elektronik. Sistem baterai dan perangkat lunak kendaraan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Regenerative braking memang dapat membantu mengurangi penggunaan rem mekanis karena sebagian energi saat deselerasi dikembalikan ke baterai. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat membuat komponen pengereman lebih awet.

Dengan demikian, mobil listrik berpotensi memiliki biaya perawatan rutin yang lebih rendah. Meski begitu, besarnya penghematan tidak bisa disamaratakan untuk semua model.

Baterai Jadi Pertimbangan Setelah Bertahun-tahun

Jika biaya energi dan perawatan menjadi keunggulan mobil listrik, baterai justru menjadi salah satu faktor yang paling banyak dipertimbangkan ketika kendaraan akan digunakan dalam jangka panjang.

Kapasitas baterai dapat mengalami degradasi seiring usia dan siklus penggunaan. Artinya, kemampuan kendaraan menempuh jarak dalam sekali pengisian dapat berkurang setelah digunakan dalam waktu lama.

Produsen kendaraan umumnya memberikan garansi baterai dengan batas waktu dan jarak tempuh tertentu. Karena ketentuannya berbeda-beda, calon pembeli perlu membaca detail garansi sebelum mengambil keputusan.

Hal penting lainnya adalah biaya apabila terjadi kerusakan di luar garansi. Harga penggantian baterai tidak bisa dipukul rata karena dipengaruhi kapasitas baterai, teknologi yang digunakan, model kendaraan, serta kebijakan produsen.

Karena itu, anggapan bahwa penggantian baterai selalu membutuhkan persentase tertentu dari harga mobil sebaiknya tidak digunakan sebagai patokan umum.

Di sisi lain, mobil bensin juga bukan berarti bebas dari risiko biaya besar setelah digunakan selama satu dekade. Komponen mesin, transmisi, sistem pendinginan, AC, kaki-kaki, dan berbagai perangkat elektronik dapat mengalami keausan dan membutuhkan perbaikan.

Bagaimana dengan Nilai Jual Kembali?

Nilai jual kembali menjadi faktor lain yang sering terlupakan ketika konsumen menghitung biaya kepemilikan.

Mobil bensin memiliki pasar mobil bekas yang lebih matang. Ketersediaan bengkel, suku cadang, serta pemahaman konsumen terhadap teknologi mesin konvensional membuat harga jual kembalinya relatif lebih mudah diperkirakan.

Pasar mobil listrik bekas masih berkembang. Perkembangan teknologi baterai dan munculnya model-model baru juga dapat memengaruhi harga kendaraan generasi sebelumnya.

Kondisi baterai menjadi salah satu informasi penting bagi calon pembeli mobil listrik bekas. Kendaraan dengan kondisi baterai yang masih baik tentu lebih menarik dibandingkan unit yang kapasitas baterainya telah mengalami penurunan signifikan.

Namun, bukan berarti semua mobil listrik pasti mengalami penurunan harga jual kembali yang lebih besar. Merek, model, usia kendaraan, harga baru, teknologi baterai, garansi, serta kondisi unit tetap menjadi faktor penentu.

Jadi, Mana yang Lebih Hemat?

Jawabannya kembali kepada pola penggunaan.

Bagi pemilik yang menempuh jarak jauh setiap hari dan memiliki akses pengisian daya yang mudah, mobil listrik berpotensi memberikan penghematan besar dari sisi energi. Biaya perawatan rutinnya juga cenderung lebih sederhana.

Sebaliknya, mobil bensin masih menarik bagi konsumen yang membutuhkan fleksibilitas tinggi dalam perjalanan. Jaringan SPBU yang luas membuat pengisian bahan bakar relatif mudah, termasuk ketika melakukan perjalanan ke daerah yang belum memiliki infrastruktur pengisian kendaraan listrik memadai.

Untuk penggunaan hingga 10 tahun, calon pembeli sebaiknya tidak hanya menghitung harga mobil dan biaya listrik atau BBM.

Perhitungkan pula biaya servis, ban, pajak, asuransi, kebutuhan pengisian daya, potensi perbaikan besar, garansi baterai, serta perkiraan nilai jual kembali.

Pada akhirnya, mobil listrik bukan otomatis menjadi pilihan paling murah untuk semua orang. Keuntungannya akan lebih terasa pada pola penggunaan tertentu.

Begitu pula mobil bensin tidak otomatis lebih ekonomis hanya karena harga belinya lebih rendah.

Jika prioritas utama adalah efisiensi energi dan biaya operasional harian, mobil listrik layak dipertimbangkan. Namun, jika fleksibilitas perjalanan, kemudahan pengisian, dan ekosistem mobil bekas menjadi pertimbangan utama, mobil bensin masih memiliki alasan kuat untuk dipilih.

Dengan kata lain, kendaraan yang paling hemat selama 10 tahun bukan semata-mata ditentukan oleh jenis mesinnya, melainkan seberapa sesuai kendaraan tersebut dengan kebutuhan dan pola penggunaan pemiliknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|