MPLS, SMK-SMTI Jogja Tanamkan Karakter Siap Industri

2 hours ago 2

MPLS, SMK-SMTI Jogja Tanamkan Karakter Siap Industri

Kepala SMK-SMTI Yogyakarta, Sarman (pertama dari kiri), berfoto bersama siswa baru SMK-SMTI Yogyakarta dalam kegiatan MPLS 2026 di SMK-SMTI Yogyakarta, Senin (29/6/2026)/ Istimewa

JOGJA—SMK-SMTI Yogyakarta menekankan pembentukan karakter sebagai fokus utama dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Mengusung tema Building Industry-Ready Students for the Future dengan tagline Adapt, Innovate, Succeed, sekolah ingin membekali siswa baru agar siap menghadapi tantangan dunia industri yang terus berubah.

MPLS yang berlangsung pada 29 Juni–2 Juli 2026 itu tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menanamkan budaya disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi sejak hari pertama siswa menginjakkan kaki di SMK-SMTI Yogyakarta.

Kepala SMK-SMTI Yogyakarta, Sarman, mengatakan materi MPLS tahun ini terus diperbarui mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, MPLS menjadi momen penting bagi siswa baru untuk mengenal budaya belajar di SMK-SMTI yang berbeda dengan jenjang SMP. Sistem pembelajaran berbasis blok hingga aturan kedisiplinan dikenalkan sejak awal agar siswa tidak mengalami culture shock.

"Yang paling penting mereka memahami kultur sekolah. Mulai dari sistem pembelajaran, penilaian, tata tertib, sampai bagaimana nantinya ketika mereka masuk ke dunia industri," katanya di SMK-SMTI Yogyakarta, Rabu (29/7/2026).

Ia menjelaskan tema MPLS tahun ini dipilih untuk menyiapkan generasi yang tangguh dan adaptif di tengah perubahan teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

"Kami ingin anak-anak menjadi pribadi yang kuat, adaptif, mampu melihat peluang, dan memanfaatkan AI sebagai alat pendukung, bukan justru dikendalikan oleh teknologi," ucapnya.

Sarman menilai tantangan terbesar lulusan saat ini bukan lagi pada kemampuan teknis, melainkan pada aspek soft skill seperti kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, dan etika kerja.

"Kalau technical skill masih bisa dipelajari dan ditingkatkan. Tetapi kekurangan pada soft skill atau perilaku tidak bisa ditutupi hanya dengan kemampuan teknis. Karena itu pembentukan karakter menjadi prioritas utama kami," katanya.

Menurutnya, karakter tersebut dibangun melalui berbagai pembiasaan selama siswa menempuh pendidikan, mulai dari disiplin waktu, kepatuhan terhadap aturan sekolah, hingga keberanian mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.

Sebagai bagian dari penguatan karakter, SMK-SMTI Yogyakarta juga akan menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam di lingkungan sekolah mulai Agustus 2026.

Dalam kebijakan tersebut, seluruh ponsel siswa akan disimpan di dalam kontainer khusus selama jam pelajaran dan hanya boleh digunakan ketika dibutuhkan untuk kegiatan pembelajaran.

"Kami melihat penggunaan gadget sudah pada tahap yang cukup mengkhawatirkan. Anak-anak menjadi kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu kami ingin mengurangi ketergantungan terhadap HP dan mendorong mereka lebih banyak berinteraksi secara langsung," katanya.

Sebagai gantinya, pihak sekolah akan menyediakan berbagai aktivitas fisik saat jam istirahat, seperti tenis meja, bola voli, dan bulu tangkis agar siswa memiliki ruang untuk bersosialisasi sekaligus menjaga kebugaran.

Menurut Sarman, kebijakan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat kemampuan komunikasi dan interaksi sosial siswa yang sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.

Ia optimistis siswa baru SMK-SMTI Yogyakarta memiliki potensi besar untuk berkembang mengingat proses seleksi masuk sekolah tersebut sangat kompetitif. Tahun ini, rasio penerimaan mencapai sekitar 1:12,5.

"Kami optimistis anak-anak yang masuk ke SMTI memiliki kualitas yang baik. Tugas sekolah adalah mengoptimalkan potensi mereka agar sesuai dengan kebutuhan industri dan harapan orang tua, sehingga setelah lulus mereka siap bekerja," katanya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan 100 persen lulusan satuan pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian dipastikan terserap bekerja di sektor industri, termasuk lulusan SMK-SMTI Yogyakarta. Menurutnya, kualitas pendidikan vokasi di bawah Kemenperin selama ini sudah baik dan ideal, baik dari sisi pelaksanaan program maupun jejaring kerja sama dengan dunia industri.

"Kualitas pendidikan vokasi kita sudah sangat baik. Tetapi perlu ditambah dari jumlah atau kuantitasnya," ujar Agus.

Agus mengatakan peningkatan kualitas juga harus diimbangi dengan penambahan kapasitas program dan sumber daya manusia (SDM) agar mampu memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang.

"Selain kualitas, aspek kuantitas juga terus ditingkatkan, baik program kelas maupun SDM, untuk memenuhi kebutuhan industri," katanya.

Menurut Agus, kebutuhan SDM unggul dan kompeten di sektor industri terus meningkat seiring pertumbuhan industri nasional.

"Industri kita bertumbuh pesat, peningkatan dan kebutuhan SDM di industri juga terus terjadi," tandasnya. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|