Muncul Fenomena Banyak Penjual Mendadak Bermunculan di Mal, Ada Apa?

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena pelaku usaha yang ramai-ramai membuka tenant dan toko baru menjelang Ramadan ternyata bukan langkah spontan. Di balik momen tersebut, ada strategi bisnis yang memang dirancang untuk memanfaatkan lonjakan konsumsi masyarakat selama bulan puasa hingga Lebaran.

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menjelaskan, periode Ramadan dan Lebaran merupakan momentum penjualan terbesar bagi industri ritel. Karena itu, banyak pelaku usaha sengaja memposisikan pembukaan gerai tepat sebelum periode tersebut dimulai.

"Jadi kalau tenant dadakan, memang rata-rata ritel itu bukan soal dadakan, tapi memang ada ruang untuk membuka toko itu adalah di event yang terbesar, dan teramai adalah lebaran. Jadi memang diposisikan pembukaan itu sebelum lebaran," kata Budihardjo kepada CNBC Indonesia, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, pembukaan tenant yang kerap berdekatan dengan momentum Ramadan sering kali menimbulkan kesan seolah-olah dilakukan mendadak. Padahal, prosesnya sudah dirancang sejak jauh hari, mulai dari pengurusan kontrak lokasi, perencanaan stok barang, hingga strategi promosi.

Ramadan dan Lebaran disebut sebagai periode krusial karena hampir seluruh kategori ritel mengalami peningkatan permintaan. Masyarakat tidak hanya berbelanja kebutuhan pokok, tetapi juga fesyen, hampers, makanan dan minuman, hingga berbagai produk gaya hidup.

Sebelumnya, dari pantauan CNBC Indonesia di pusat perbelanjaan di Kota Bekasi, di hari Sabtu-Minggu (28 Februari-1 Maret 2026), tampak pengunjung memadati mal. Terpantau, pengunjung memadati tenant-tenant fesyen. Lorong-lorong mal yang tadinya hanya hanya beberapa tenant fesyen, tampak semakin padat dengan jumlah pakaian/ produk fesyen yang dijual juga semakin bertambah. Didominasi pakaian-pakaian bernuansa Muslim.

Budihardjo mengatakan, selain toko permanen, ada pula pelaku usaha yang memanfaatkan momentum ini melalui konsep bazar atau pop up store. Model ini banyak digunakan untuk promosi jangka pendek, terutama oleh pelaku usaha berbasis online yang ingin menjangkau konsumen secara offline saat trafik pengunjung meningkat.

"Jadi terlihat kayak dadakan. Namun juga ada yang sifatnya bazar atau pop up store yang memang promosi atau memang orang-orang pemain online biasanya mempromosikan secara offline di event-event Nataru (Natal dan Tahun Baru) atau Lebaran. Namun paling besar di lebaran," jelasnya.

Ia menyebut Lebaran menjadi titik awal atau "kick off" yang ideal bagi toko baru, untuk langsung mencatatkan penjualan. Dengan membuka gerai sekitar sebulan sebelum hari raya, pelaku usaha bisa memanfaatkan arus belanja yang mulai meningkat sejak awal Ramadan.

"Jadi memang Lebaran itu momentum kick off ya. Biasanya sebulan sebelum Lebaran buka, dan mereka bisa mempromosikan atau menghabiskan stok. Dan juga untuk toko-toko baru, memang memposisikan ya mendingan kontrak buka tokonya pada saat momentum Lebaran. Karena langsung mendapatkan penjualan," pungkas Budihardjo.

Strategi ini dinilai efektif karena toko baru dapat langsung memperoleh arus kas sejak awal operasional. Selain itu, tingkat kunjungan yang tinggi membantu mempercepat pengenalan merek kepada konsumen tanpa harus mengeluarkan biaya promosi berlebih di periode sepi.

Dengan pola tersebut, ramainya pembukaan tenant menjelang Ramadan bukan sekadar tren musiman tanpa perhitungan. Bagi pelaku ritel, momentum ini adalah jendela emas untuk memulai operasional, mempercepat perputaran stok, dan mengoptimalkan penjualan sejak hari pertama toko dibuka.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|