Jakarta, CNBC Indonesia - Para Para pemimpin oposisi Israel mengkritik gencatan senjata dengan Iran pada hari Rabu waktu setempat. Mereka bahkan menuduh Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu gagal total mencapai tujuan akhir perang, yang dilancarkan bersama Amerika Serikat (AS), 28 Februari.
"Tidak pernah ada bencana politik seperti ini sepanjang sejarah kita," tulis pemimpin oposisi utama negara itu, Yair Lapid, di X, dikutip Kamis (9/4/2026).
"Israel bahkan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai inti keamanan nasional kita," tambahnya.
"Tentara telah melaksanakan semua yang diminta darinya, dan publik menunjukkan ketahanan yang luar biasa, tetapi Netanyahu gagal secara politik, gagal secara strategis, dan tidak mencapai satupun tujuan yang telah ia tetapkan sendiri."
Netanyahu telah menetapkan penghapusan atau setidaknya degradasi parah program nuklir Iran sebagai tujuan utama perang, menggambarkannya sebagai "ancaman eksistensial" bagi Israel. Ia juga menyerukan netralisasi kemampuan rudal balistik Iran, pelemahan atau potensi penggulingan rezim Iran, dan pembatasan pengaruh regional Teheran dengan menargetkan jaringan kelompok sekutunya.
"Akan butuh waktu bertahun-tahun bagi kita untuk memperbaiki kerusakan politik dan strategis yang disebabkan Netanyahu karena kesombongan, kelalaian, dan kurangnya perencanaan strategis," kata Lapid lagi.
Hal sama juga dikatakan mantan PM dan lawan Netanyahu dari sayap kanan, Naftali Bennett. Ia mengatakan omongan Netanyahu adalah "janji kosong".
"Para pemimpin telah menjual ilusi kepada kita.... Malam ini semua janji kosong mereka telah hancur di hadapan kita," katanya di X.
"Sayangnya, kita semua dapat melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Hamas semakin kuat, dan Hizbullah serta Iran masih tetap teguh," ujarnya lagi.
Sementara itu, kepala partai Demokrat sayap kiri, Yair Golan, menyebut gencatan senjata itu sebagai "kegagalan strategis" Netanyahu. Kemenangan, ujarnya, tak pernah diraih.
"Dia menjanjikan kemenangan bersejarah dan keamanan untuk generasi mendatang, dan dalam praktiknya, kita mendapatkan salah satu kegagalan strategis paling parah yang pernah dialami Israel," kata Golan di X.
"Ini adalah kegagalan total yang membahayakan keamanan Israel selama bertahun-tahun mendatang," jelasnya.
Anggota parlemen dan tokoh oposisi Avigdor Liberman juga mengecam gencatan senjata tersebut. Ia mengatakan bahwa itu memberi rezim Iran "kesempatan untuk berkumpul kembali".
"Kesepakatan apa pun dengan Iran yang tidak mencakup penolakan terhadap penghancuran Israel, pengayaan uranium, produksi rudal balistik, dan dukungan terhadap organisasi teroris di kawasan itu berarti kita harus kembali ke kampanye lain dalam kondisi yang lebih sulit dan membayar harga yang lebih mahal," kata Liberman di X.
AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dalam upaya menit-menit terakhir untuk mencegah kehancuran total Iran yang diancam oleh Presiden AS Donald Trump. Kantor Netanyahu mengatakan Israel mendukung keputusan Trump untuk menangguhkan pemboman Iran, tetapi menegaskan bahwa gencatan senjata "tidak termasuk Lebanon" di mana pasukan Israel memerangi Hizbullah yang didukung Iran.
Dalam laporan AFP, Kamis dini hari, setidaknya 112 orang tewas dan 837 lainnya terluka di Lebanon pada hari Rabu setelah Israel melancarkan gelombang serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perang saat ini. Hal tersebut akhirnya membuat Iran mengancam batalnya gencatan senjata.
"Serangan udara musuh Israel di berbagai wilayah Lebanon, yang mencapai ibu kota Beirut, telah menyebabkan, dalam data terbaru yang belum final, 112 orang tewas dan 837 orang terluka," kata kementerian Lebanon dalam sebuah pernyataan.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

















































