Harianjogja.com, KULONPROGO—Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Kulonprogo mencatat lonjakan okupansi hotel yang signifikan hingga menyentuh angka 70 persen selama libur Lebaran 2026.
Fenomena menarik terjadi di Bumi Binangun, di mana peningkatan keterisian kamar ini justru tidak datang dari kalangan wisatawan, melainkan didominasi oleh para pemudik.
Capaian 70 persen ini merupakan lompatan besar bagi industri perhotelan di Kulonprogo, mengingat pada hari biasa okupansi rata-rata hanya berada di kisaran 30 persen. Ketua BPC PHRI Kulonprogo, Sumantoyo, mengonfirmasi bahwa angka pasti dari perekapan data tersebut akan segera dikoordinasikan lebih lanjut.
“Okupansi ramai sampai 70-an persen tetapi fix-nya baru akan dikoordinasikan besok siang,” ujar pria yang akrab disapa Mantoyo ini saat dikonfirmasi, Minggu (29/3/2026).
Mantoyo menegaskan bahwa tingginya okupansi ini murni merupakan dampak dari arus mudik Idulfitri, bukan karena daya tarik destinasi wisata. Ia belum dapat merinci apakah para pemudik tersebut menjadikan Kulonprogo sebagai tujuan akhir atau hanya sekadar tempat beristirahat sejenak dalam perjalanan lintas provinsi.
Berdasarkan data sementara ini, Mantoyo menilai sektor destinasi wisata di Kulonprogo masih belum menjadi magnet utama yang membuat pengunjung mau menginap.
“Destinasi Kulonprogo belum menjanjikan karena hotel ramai sama pemudik yang bukan mencari destinasi wisata,” lanjutnya.
Kendati demikian, angka 70 persen dinilai sudah cukup baik mengingat PHRI sebelumnya tidak berani memasang target tinggi. Kekhawatiran akan sepinya jalur Kulonprogo sempat muncul lantaran akses menuju Yogyakarta kini semakin mudah melalui pintu tol Purwomartani.
Menurutnya, pertumbuhan industri hotel sangat bertumpu pada kekuatan destinasi wisata yang mampu menahan wisatawan untuk tinggal lebih lama.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata (Dispar) Kulonprogo justru mencatat adanya kenaikan kunjungan wisatawan secara kumulatif dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Dispar Kulonprogo, Sutarman, menilai tren positif ini merupakan hasil dari promosi berkelanjutan serta peningkatan kualitas pelayanan di berbagai destinasi. Sutarman memastikan pihaknya terus berupaya mengoptimalkan pengelolaan arus kunjungan guna menjaga kenyamanan pengunjung dan daya dukung lingkungan.
Ke depan, Dispar Kulonprogo berkomitmen untuk memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan demi meningkatkan daya saing pariwisata daerah. Upaya ini diharapkan dapat mendorong persebaran wisatawan ke berbagai titik destinasi sehingga sektor pariwisata benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pengelola hotel dan pengembang destinasi, diharapkan wisatawan masa depan tidak hanya melintas, tetapi juga memilih untuk menetap di Kulonprogo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































