Paus Leo Sindir Trump, Sebut Tuhan Tolak Doa Pemimpin "Berdarah"

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo memberikan pernyataan keras dengan menyebut bahwa Tuhan mengabaikan doa-doa para pemimpin yang mengobarkan perang dan memiliki "tangan yang penuh dengan darah". Pernyataan yang menjadi teguran nyata bagi pemerintahan Amerika Serikat (AS) ini disampaikan di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah.

Paus Leo menyampaikan komentar tersebut pada Minggu (30/03/2026) waktu setempat, saat ribuan tentara AS tiba di Timur Tengah. Momentum ini juga terjadi hanya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, berdoa memohon kekerasan terhadap musuh-musuh yang dianggap "tidak layak mendapatkan belas kasihan".

Dalam misa Minggu Palem di Lapangan Santo Petrus, Paus Leo menegaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan AS adalah sesuatu yang sangat kejam. Ia menekankan bahwa sosok Yesus tidak dapat digunakan oleh siapapun untuk membenarkan tindakan perang.

"Inilah Tuhan kita: Yesus, raja perdamaian, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan oleh siapapun untuk membenarkan perang. Dia tidak mendengarkan doa mereka yang mengobarkan perang, melainkan menolak mereka," tegas Paus Leo di hadapan puluhan ribu umat dikutip The Guardian.

Sembari mengutip ayat Alkitab, Leo menambahkan poin krusial mengenai sikap Tuhan terhadap para pemimpin yang memilih jalur kekerasan tersebut.

"Bahkan jika kamu memanjatkan banyak doa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah," tambah Leo mengutip nats tersebut.

Paus pertama asal AS dalam sejarah Gereja Katolik ini memang tidak menyebutkan nama pemerintah atau individu tertentu secara spesifik. Namun, pernyataan tajam yang tidak biasa ini menyusul doa kekerasan yang dipanjatkan Hegseth pada hari Rabu serta adanya penumpukan pasukan darat AS di dekat wilayah Iran.

Paus Leo kemudian mengutip bagian Alkitab di mana Yesus menegur seorang murid yang menggunakan pedang untuk mengusir tentara yang datang menangkap-Nya. Leo menekankan bahwa Yesus tidak mempersenjatai diri atau melawan demi menunjukkan wajah Tuhan yang lembut.

"Dia mengungkapkan wajah Tuhan yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri-Nya sendiri, Dia membiarkan diri-Nya dipaku di kayu salib," ujar Leo.

Seruan perdamaian ini muncul saat Pentagon tengah mempersiapkan operasi darat selama berminggu-minggu, menurut laporan pejabat AS kepada The Washington Post. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pasukan negaranya sedang menunggu pasukan AS untuk "membakar mereka".

Para pemimpin di semua sisi konflik diketahui telah menggunakan agama untuk mencoba membenarkan tindakan mereka. Namun, keterlibatan keyakinan Kristen Hegseth dalam tindakan operasional Pentagon telah menarik perhatian dan kontroversi yang luas.

Pekan lalu, pada sebuah kebaktian Kristen untuk pekerja militer dan sipil di Washington, Hegseth melontarkan doa yang memicu perdebatan mengenai penggunaan kekerasan militer.

"Biarkan setiap peluru mengenai sasarannya terhadap musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang besar. Beri mereka hikmat dalam setiap keputusan, daya tahan untuk ujian di depan, persatuan yang tak tergoyahkan, dan kekerasan tindakan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak pantas mendapatkan belas kasihan," kata Hegseth.

Menteri Pertahanan tersebut diketahui merupakan anggota gereja yang berafiliasi dengan Communion of Reformed Evangelical Churches. Pendiri gereja tersebut mengidentifikasi dirinya sebagai seorang nasionalis Kristen.

Menanggapi kehancuran yang terjadi, Paus Leo telah berulang kali menyerukan gencatan senjata dan larangan serangan udara di wilayah Lebanon, Israel, dan negara-negara Teluk. Dalam homilinya pada hari Minggu, ia menyesalkan kemungkinan umat Kristen di wilayah tersebut tidak dapat merayakan Paskah dengan damai.

Bagi umat Kristen, Minggu Palem adalah awal dari pekan suci yang menandai kedatangan Kristus di Yerusalem beberapa hari sebelum penyaliban dan kebangkitan-Nya. Namun, ketegangan justru meningkat di Yerusalem pada Minggu pagi itu.

Polisi Israel dilaporkan menghalangi Kardinal Pierbattista Pizzaballa, seorang uskup agung dengan yurisdiksi Katolik di seluruh Israel dan wilayah Palestina, untuk memasuki Gereja Makam Kudus di Yerusalem guna memimpin misa. Langkah ini memicu kecaman keras dari negara-negara Barat termasuk sekutu dekat Israel.

Duta Besar AS Mike Huckabee, yang merupakan seorang Kristen evangelis taat, menyebut insiden tersebut sebagai sebuah tindakan yang melampaui batas.

"Insiden itu adalah sebuah tindakan melampaui batas yang sangat disayangkan," ungkap Huckabee.

Kecaman serupa datang dari Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, yang menilai tindakan tersebut telah mencederai prinsip kebebasan beragama yang seharusnya dijunjung tinggi.

"Itu adalah penghinaan tidak hanya bagi umat beriman tetapi bagi komunitas mana pun yang menghormati kebebasan beragama," tegas Meloni.

Senada dengan Meloni, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa kebebasan menjalankan ibadah di Yerusalem harus dijamin untuk semua agama tanpa terkecuali.

Menanggapi gelombang protes tersebut, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan klarifikasi bahwa tidak ada niat jahat di balik penghalangan sang Kardinal. Ia mengklaim pembatasan tersebut didasari oleh masalah keamanan.

"Meskipun saya memahami kekhawatiran ini, saya telah menginstruksikan otoritas terkait agar Pizzaballa diberikan akses penuh dan segera ke Gereja Makam Kudus di Yerusalem," kata Netanyahu.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|