Pengobatan TBC yang tak Tuntas pada Anak Bisa Picu Peradangan Jantung

6 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tuberkulosis (TB atau TBC) masih menjadi menjadi salah satu persoalan kesehatan terbesar di Tanah Air. Indonesia saat ini menjadi negara dengan beban TB terbesar kedua di dunia setelah India, menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus global.

Meski umumnya bermula di paru-paru, TB yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menyebar ke organ tubuh lain, termasuk jantung. Kondisi ini dinamakan dengan TB ekstra paru atau TB yang terjadi di luar paru.

Dokter konsultan jantung anak, dr Sarah Rafika Nursyirwan, mengatakan salah satu jenis TB ekstra paru yang perlu diwaspadai adalah perikarditis tuberkulosis. Ini merupakan infeksi TB yang menyerang perikardium atau lapisan tipis yang membungkus jantung.

"TB di Indonesia masih endemis, baik pada anak maupun dewasa. Sebagian besar kasus TB memang bermula di paru-paru. Namun dalam kondisi tertentu, bakteri penyebab TB dapat menyebar ke organ lain seperti usus, otak, hingga selaput jantung yang disebut TB perikarditis," kata dr Sarah dalam diskusi virtual Ikatan Dokter Anak Indonesia dipantau di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

la menjelaskan penyebaran TBC ke jantung umumnya terjadi ketika infeksi di paru tidak tertangani dengan baik. Misalnya pasien tidak patuh minum obat, terapi tidak teratur, atau munculnya resistensi obat dapat membuat bakteri terus berkembang dan menyebar ke organ lain termasuk jantung melalui aliran darah.

"Bila perikardium mengalami infeksi dan peradangan, maka akan terjadi perikarditis TB. Pada kondisi ini dapat terjadi penumpukan cairan di ruang perikardium yang dapat mengganggu fungsi jantung," kata dia.

Jika proses peradangan berlangsung berulang atau tidak ditangani secara optimal, kondisi dapat berkembang menjadi perikarditis konstriktif. Ini adalah kondisi ketika perikardium menebal dan mengeras sehingga membatasi gerakan jantung saat memompa darah.

"Lama-lama otot jantung di bagian belakang juga bisa menjadi kaku. Bila tidak diatasi, kondisi ini bisa berlanjut menjadi perikarditis konstriktiva," kata dr Sarah.

Kasus seperti ini, menurut dr Sarah, tidak jarang ditemukan pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit, terutama mereka yang mengalami gizi buruk atau memiliki infeksi TB berat yang belum tuntas pengobatannya. Peradangan berulang pada perikardium menyebabkan jaringan di sekitar jantung menjadi semakin kaku dan akhirnya mengganggu fungsi jantung secara signifikan.

Pada kondisi tertentu, tindakan medis invasif diperlukan untuk menyelamatkan pasien. "Misalnya pada kondisi perikarditis konstriktif, bisa dilakukan tindakan operasi jantung dengan mengelupas atau mengangkat selaput perikardium yang sudah kaku. Tujuannya agar gerakan jantung tidak lagi terhambat," ujar dr Sarah.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|