Pentagon Rancang Operasi Serangan Darat ke Iran, Tunggu Perintah Trump

5 hours ago 1

Harianjogja.com, WASHINGTON—Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah menyusun skenario operasi militer darat ke wilayah Iran yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa pekan.

Langkah ini dilakukan di tengah pengerahan besar-besaran personel AS ke Timur Tengah, meski otoritas tertinggi untuk eksekusi serangan tetap berada sepenuhnya di tangan Presiden Donald Trump.

Laporan Washington Post pada Sabtu menyebutkan bahwa para pejabat tinggi AS menilai rencana ini sebagai ambang pintu bagi "fase baru perang" yang jauh lebih berisiko.

Dibandingkan dengan eskalasi yang terjadi selama empat pekan terakhir, operasi darat ini dianggap "lebih berbahaya secara signifikan" bagi keselamatan pasukan Amerika. Rencana tersebut dikabarkan bukan merupakan invasi berskala penuh, melainkan operasi presisi yang melibatkan pasukan operasi khusus dan unit infanteri.

Operasi ini membawa risiko tinggi karena personel AS akan terpapar langsung oleh ancaman drone, rudal, tembakan darat, hingga penggunaan bahan peledak rakitan. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa tugas utama Pentagon saat ini adalah menyediakan pilihan strategi yang paling optimal bagi Presiden.

"Hal tersebut bukan berarti Presiden telah membuat keputusan," tegas Leavitt sebagaimana dikutip media AS, Minggu (29/3/2026).

Beberapa skenario strategis yang masuk dalam pembahasan mencakup operasi militer ke Pulau Kharg, yang merupakan titik vital ekspor minyak Iran, serta misi penyergapan di sepanjang pesisir Selat Hormuz. Langkah ini diambil guna mengatasi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional yang krusial.

Meski durasi misi diperkirakan berlangsung dalam hitungan pekan hingga bulan, Presiden Trump sebelumnya sempat menyatakan bahwa ia "tidak akan mengerahkan personel ke manapun".

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mencoba meredam spekulasi dengan menegaskan bahwa konflik dengan Iran tidak akan menjadi perang yang berkepanjangan. Rubio optimis tujuan militer AS dapat tercapai tanpa harus melibatkan pengerahan pasukan darat secara masif.

Hingga saat ini, data menunjukkan setidaknya 13 personel militer AS tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026.

Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik nadir sejak serangan gabungan Israel dan AS pada 28 Februari lalu, yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Serangan balasan Iran berupa hujan drone dan rudal ke Israel serta pangkalan AS di Yordania dan Irak telah memicu kekacauan pada pasar energi dan penerbangan global.

Di tengah situasi ini, jajak pendapat menunjukkan 62 persen masyarakat AS menolak keras serangan darat, sementara pengamat militer memperingatkan bahwa mobilitas dan kelincahan pasukan akan menjadi kunci perlindungan utama di medan yang sangat berbahaya tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|